DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 45.764.339.104 (19 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Bahaya Diet Karnivor, Pola Makan Tinggi Daging Minim Serat

Nia Deviyana - 09 Agustus 2018 13:13 wib
(Foto: Adobe P)
(Foto: Adobe P)

Jakarta: Jika Anda berpikir diet ketogenik cukup ekstrem untuk dilakukan, jangan kaget jika Anda kembali mendengar diet karnivora. Diet yang mengadopsi konsumsi daging sebagai menu makan sehari-hari ini sedang ramai dibicarakan di kalangan food blogger. Dalam diet ini, Anda hanya akan makan daging, tanpa sayuran sama sekali. 

Konsep diet ini memiliki pedoman, makan daging dan minum air putih. Semakin berlemak potongan daging, maka semakin baik. 

Faktanya, diet ini telah menghimpun komunitas secara daring yang aktif. Grup Facebook diet ini memiliki lebih dari 15 ribu anggota. Di Instagram, hashtag #MeatHeals memiliki lebih dari 17 ribu pos. 

Diet ini pertama kali diperkenalkan oleh Shawn Baker, mantan ahli bedah ortopedi. Dengan tarif USD49, Baker membimbing banyak orang untuk mengikuti pola makan yang disebutnya sebagai Carnivore Training System. Lisensi medis Baker dicabut pada 2017, tetapi tidak menghentikan orang-orang yang terlanjur mengikuti nasehatnya.

Baker sangat yakin bahwa orang-orang dapat memeroleh manfaat dengan membatasi konsumsi semua makanan, kecuali daging. Menurutnya, daging menyediakan semua nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

"Agak sedih ketika berjalan di sekitar toko dan melihat begitu banyak orang seusia saya tersiksa dengan diet gandum, olahan karbohidrat, minyak sayur, dan ilusi tentang manfaat sayuran. Sementara itu saya berkembang, menjadi lebih kuat, lebih cepat, dan hampir tidak menua!," kata dia pada postingan instagram.

Diet ini tentu menuai pro dan kontra. Jackie Elnahar, ahli diet terdaftar dan salah satu pendiri TelaDietitian mengatakan ada konsekuensi kesehatan yang buruk dari diet bebas serat ini.

"Serat membantu sistem pencernaan mencegah sembelit, serta membantu penyerapan nutrisi," ujarnya,  dilansir dari The Daily Meal.

Namun, ini lebih dari masalah kekurangan nutrisi belaka. 

"Makan terlalu banyak lemak jenuh dan kolesterol mengarah pada penyumbatan arteri, yang berkontribusi pada penyakit jantung dan perlemakan hati. Selain itu, produk hewani hanya memiliki kolesterol LDL, bukan HDL yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung," papar Elnahar.

Belum lagi hormon dan antibiotik yang disuntikkan pada daging. 

"Hormon dan antibiotik dapat berkontribusi pada kanker androgenik tertentu," kata Elnahar. 

Hal senada juga dikatakan Dr Mike Roussell, konsultan nutrisi berbasis di New York. Menurutnya, tubuh bisa kehilangan berbagai vitamin dan mineral jika sama sekali tidak mengonsumsi buah, sayuran, dan makanan nabati. Daging tidak mengandung serat sehingga dapat meningkatkan potensi masalah pencernaan. 

Penelitian menunjukkan bahwa diet tinggi daging dan rendah sayuran dapat mempercepat usia biologis tubuh dan meningkatkan risiko demensia. Konsumsi daging merah secara berlebihan dan daging olahan secara berlebihan juga dikaitkan dengan risiko kanker kolorektal.

The American Heart Association juga mencatat bahwa sapi, babi, dan domba mengandung lebih banyak kolesterol dan lemak jenuh dibandingkan ikan dan ayam. 

Untuk Anda yang berencana diet, penting untuk berkonsultasi pada ahli mengenai diet yang cocok untuk tubuh Anda. Sebab, satu jenis diet yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok pada tubuh Anda. 

Disarankan pula untuk mengadopsi diet yang mengadopsi nutrisi seimbang untuk meminimalisir risiko kesehatan yang tidak diinginkan. 


Lihat video:





(DEV)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG DIET
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 20-10-2018