Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.659.184.273 (20 JULI 2018)

Kemenkes Sebut Gap Imunisasi sebagai Penyebab KLB Difteri

Sri Yanti Nainggolan - 10 Januari 2018 20:32 wib
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek meninjau ketersediaan obat saat kunjungan kerja di Puskesmas Garuda, Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/12). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi.
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek meninjau ketersediaan obat saat kunjungan kerja di Puskesmas Garuda, Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/12). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi.

Jakarta: Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri yang terjadi sejak Oktober 2017 hingga kini mendapat evaluasi dari Kementrian Kesehatan.

Sebagai respons dalam menghadapi wabah, Outbreak Response Immunization (ORI) pun dilakukan dan menunjukkan penurunan signifikan.

"Dari 170 kab/kota yang melaporkan adanya kasus, kini tinggal 85 kab/kota yang masih melaporkan" ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, saat ditemui di Kementrian Kesehatan, Rabu, 10 Januari 2018.

Selain memberikan perkembangan, Subuh juga memberitahu evaluasi terkait kasus tersebut.

"Ada evaluasi dimana terjadi gap imunisasi, terutama di daerah padat."

Gap Imunisasi merupakan kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah. Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya.

Ia menjelaskan, misalnya terdapat lima persen dari penduduk yang terkena difteri, angka tersebut akan tergolong besar karena berada di daerah dengan jumlah penduduk yang banyak.

Untuk Januari 2018, telah ditemukan 11 kasus baru difteri di empat provinsi.




(DEV)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KLB DIFTERI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 20-07-2018