Imunoterapi, Harapan Baru Pasien Kanker Paru

Indriyani Astuti - 12 Oktober 2017 15:42 wib
(Foto: Pinterest)
(Foto: Pinterest)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengobatan kanker paru sebelumnya hanya mengandalkan kemoterapi, radioterapi, dan bedah. Namun, kini tersedia pilihan pengobatan terbaru yang menyasar sistem imun atau imunoterapi.

Dari sejumlah penelitian dan penerapan di beberapa negara seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia, terapi tersebut terbukti bisa meningkatkan harapan hidup pasien.

"Terapi imun yang sudah bisa diterapkan di Indonesia saat ini dilakukan dengan pemberian obat pembrolizumab," kata dokter spesialis patologi anatomi Rumah Sakit (RS) Kanker Dharmais Evelina Suzanna dalam diskusi di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, imunoterapi dengan pembrolizumab adalah terapi pengobatan kanker melalui cara mengaktifkan sistem imun di dalam tubuh guna membunuh sel kanker yang sebelumnya tertutup. Dengan imunoterapi, sistem imun tubuh yang sebelumnya tidak dapat mengenali dan mengendalikan pertumbuhan sel kanker akan diubah menjadi mampu mengenali dan menghancurkan sel kanker tersebut.

"Sifat imortal sel kanker dibebaskan dengan obat ini sehingga program kematian sel oleh sistem imun akan bekerja normal kembali," jelas Evelina.

Ia menjelaskan, sebelum diputuskan diberi terapi dengan imunoterapi, pasien kanker paru harus melalui beberapa pemeriksaan terlebih dahulu. Di antaranya, pemeriksaan DNA untuk menyesuaikan terapi terbaik bagi setiap pasien.

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan biomolekuler atau PD-L1 untuk mengetahui prediksi persentase keberhasilan imunoterapi. "Jika PD-L1 terbukti positif, terutama di atas 50%, sel kanker akan merespons dengan baik pengobatan pembrolizumab. Hasil penelitian menunjukkan, lebih dari 50% pasien kanker paru yang diberikan pembrolizumab memiliki harapan hidup lebih panjang," kata Evelina.

Imunoterapi dan tes PD-L1 dapat dilakukan sejak pasien terdeteksi memiliki kanker paru di semua stadium. Namun, potensi keberhasilan dan pengaruh peningkatan harapan hidup akan lebih besar bila dilakukan pada pasien dengan stadium awal.

"Dahulu di Indonesia tes ini belum bisa dilakukan dan obatnya juga belum tersedia. Pasien yang telah mengetahui terapi ini, umumnya pergi berobat ke luar negeri. Sekarang, tes ini sudah bisa dilakukan di Indonesia dan obatnya juga tersedia. Yang saat ini sudah berjalan, di RS Dharmais," katanya.

Untuk memperluas jangkauan pengobatan tersebut, saat ini sedang berlangsung pelatihan di 14 pusat patologi anatomi di rumah sakit kelas A (tersier) di seluruh Indonesia. Tempatnya antara lain di RSCM, RS Persahabatan, RS Fatmawati, RS Adam Malik Medan, RS Sanglah Bali, RS dr Soetomo Surabaya, RS dr Kandou di Manado, RS dr Karyadi Semarang, RS dr Sardjito Yogyakarta, dan RS Hasan Sadikin Bandung.

"Diharapkan dalam sebulan sampai dua bulan ini rumah sakit tersebut sudah bisa melakukan tes PD-L1. Memang butuh waktu untuk pelatihan dulu karena harus menyamakan standar laboratorium dan sumber daya manusia karena prosesnya rumit dan membutuhkan biaya sekitar Rp4 juta untuk setiap pemeriksaan," ujar Evalina.

Paling mematikan

Meski begitu, pengobatan kanker paru dengan imunoterapi tetap harus dilakukan bersamaan dengan terapi konvensional. Hal tersebut perlu dilakukan untuk membuat potensi kesembuhan dan keberhasilan terapi menjadi semakin besar.

"Kanker tetap harus diangkat atau diredam dulu pertumbuhannya, agar dapat hasil maksimal. Jadi (pengobatan) bisa jalan bersamaan," katanya.

Kanker paru merupakan salah satu jenis kanker paling mematikan.

Selain saat masih stadium awal tidak menimbulkan gejala yang khas, angka harapan hidup pasien kanker paru lebih rendah bila dibandingkan dengan jenis pasien kanker lain. Meski masih dalam tahap stadium awal, kanker paru sama ganasnya dengan stadium akhir.

"Paru-paru menjadi tempat berakhirnya sel kanker yang ganas. Meskipun stadium penyakitnya masih awal, seolah-olah pasien menderita penyakit kanker paru stadium akhir. Paru-paru itu end organ bagi sel kanker atau tempat berakhirnya sel kanker yang sebelumnya dapat menyebar di area payudara, ovarium, usus, dan lain-lain," pungkas Evelina.




(DEV)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KESEHATAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 12-12-2017