DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 40.273.617.416 (15 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Kontroversi Manfaat Kencing Unta, Menkes: Itu Kotoran

Sri Yanti Nainggolan - 10 Januari 2018 15:28 wib
(Foto: Shutterstock)
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Kontoversi manfaat minum kencing unta masih terus diperbincangkan di media sosial. Hal itu berawal dari video Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bachtiar Nasir yang minum air kencing unta dicampur dengan susu.

Dalam video, Bachtiar Nasir menyebut air kencing unta dapat menjadi penyembuh sel-sel kanker.

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek berpendapat bahwa dari segi medis, kencing adalah cairan sisa tubuh yang berarti kotoran.

"Kami dari sisi kedokteran, sederhana saja berpikirnya, kencing dikeluarkan oleh ginjal, WC-nya tubuh untuk membuang kotoran. Kenapa hasil buangan masih diminum?" ujar Nila saat ditemui di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu, 10 Januari 2018.

Apalagi, kata Nila, belum ada penelitian tentang manfaat kencing hewan gurun tersebut.

"Jika semua zat sisa dalam tubuh dibuang, kemudian ditelan mentah-mentah lagi, ya perlu diteliti dulu," tambahnya.

"Dalam hadits ada Iqra, yang artinya bacalah. Kita juga perlu berpikir tentang apa yang kita baca. Kita dikasih otak untuk berpikir. Jadi jika mendapat informasi, kita baca, kemudian pikir, baru lakukan," sambungnya.

Pihak Kemenkes sendiri telah memberi peringatan kepada masyarakat agar berhati-hati dalam menerima informasi yang beredar, termasuk tentang kesehatan.

Dilansir dari Independent, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah memperingatkan untuk tidak meminum air kencing unta sebagai upaya mencegah penyebaran penyakit Sindrom Pernapasan Timur Tengah (Mers).

Mers disebabkan oleh infeksi virus golongan korona yang menyerang hewan dan manusia. Mers telah terdeteksi pada unta, dan kebanyakan manusia yang terjangkit tercatat memiliki interaksi dengan unta.

Lihat video:


(DEV)

ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 16-10-2018