Sulit Mendeteksi Katarak pada Bayi

- 12 September 2017 15:52 wib
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)

Mtrotvnews.com, Jakarta: Kasus katarak yang dialami putra kedua aktris Asri Welas membuka mata banyak pihak terutama para orang tua. Penyakit yang bisa merenggut penglihatan seseorang ini bisa menimpa siapa saja, termasuk bayi.

Ada beberapa penyebab mengapa bayi yang usianya masih di bawah enam bulan menderita katarak. Mulai dari paparan virus seperti rubella, torch dan toksoplasma hingga cacat bawaan lahir.

"Katarak itu kekeruhan lensa, bisa terjadi kapan pun tergantung usianya. Tapi dalam kasus bayi Asri Welas baru diketahui saat bayi berusia tiga bulan. Besar dugaan itu bawaan lahir yang Kita sebut katarak kongenital," ujar Spesialis Mata dr. Artha Latief, dalam Newsline, Selasa 12 September 2017.

Menurut Artha, 60 persen penyebab katarak umumnya karena kelainan sistemik metabolik, tetapi ada pula yang diakibatkan oleh virus sehingga untuk mengetahuinya perlu pemeriksaan yang panjang dan lama. Tetapi tugas tenaga medis atas hal ini adalah menyelamatkan penglihatan dengan jalan operasi.

Katarak pada bayi, kata Artha, bisa dideteksi lebih awal jika kekeruhan lensanya sudah dalam tahap lanjut. Tetapi jika masih tahap awal akan sulit dideteksi.

"Kadang ada satu atau dua titik saja. Makanya sesuai pertumbuhan anaknya, katarak ini semakin tebal. Kalau ada kecurigaan tertentu misalnya anak tidak merespon bisa jadi ada masalah," katanya.

Menurut Artha, umumnya operasi katarak pada anak atau bayi lebih mudah karena katarak pada mata masih lembek. Tetapi yang harus diperhatikan dan diprioritaskan adalah tindak lanjut setelah operasi.

Misalnya penggunaan kacamata. Fungsi menggunakan kacamati adalah untuk merangsang visual anak agar berkembang dengan baik. Diharapkan, seiring pertumbuhan usia, penglihatan akan semakin baik.

"Ini yang kemudian perlu diikuti dan terus dipantau," ujar Artha.

Untuk merangsang perkembangan visual pada bayi, orang tua bisa menggunakan mainan dengan warna mencolok dan bersuara yang digantungkan di atas kepala anak. Hal ini karena pertumbuhan penglihatan manusia memang dimulai ketika bayi berusia 3-4 bulan. Karenanya, warna yang mencolok akan memudahkan anak menerima rangsangan visual yang lebih baik.

Artha menambahkan ada dua opsi terkait penanganan kasus katarak pada anak usai operasi, penggunaan kacamata khusus atau pemasangan lensa tanam. Namun hal ini masih ada perdebatan lantaran kasus katarak anak pasti berbeda.

"Sebagian besar dokter mata anak sepakat bahwa pemberian lensa tanam pada anak sebaiknya ditunda. Karena dia masih tumbuh kembang, bola matanya masih bisa membesar, sampai umur tertentu strukturnya baru mapan. Tapi tentunya masing-masing dokter anak punya pertimbangan sendiri karena setiap kasus tidak sama, bahkan mata kiri dan kanan pun tidak sama," jelasnya.




(MEL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KESEHATAN ANAK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 20-09-2017