Penggunaan Ibuprofen Berlebihan Beri Efek Buruk terhadap Sperma

Anggi Tondi Martaon - 14 Januari 2018 13:36 wib
(Foto: Shutterstock)
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Ibuprofen menjadi andalan untuk menghilangkan rasa nyeri, seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri haid, nyeri otot, atau arthritis. Namun, penggunaan berlebihan dapat berdampak buruk terhadap sperma.

Sebuah studi yang dilakukan di Denmark dan Prancis menemukan, pria yang mengonsumsi ibuprofen secara berlebihan berisiko mengalami infertilitas. Dosis maksimum yang diperbolehkan untuk orang dewasa hanya 1.200 mg sehari.

Studi tersebut meneliti 31 pria di Denmark dan Prancis yang berusia antara 18 dan 35 tahun. Beberapa di antaranya mengonsumsi 600 mg ibuprofen dua kali sehari, sedangkan sisanya menggunakan plasebo.

Peneliti menyebutkan, setelah kaum adam yang rutin mengkonsumsi ibuprofen selama dua minggu mengalami penurunan testosteron. Hal itu menyebabkan tingkat kesuburan pria, khususnya kelompok lanjut usia (lansia) menjadi lebih rendah.

Dalam hasil penelitian yang dipublikasikan di Prosiding National Academy of Sciences, peneliti menjelaskan, ibuprofen berpengaruh terhadap kemampuan endokrin dari sel testis tertentu, termasuk produksi testosteron.

"Data kami menunjukkan bahwa ibuprofen mengubah sistem endokrin melalui represi transkripsi selektif pada testis manusia, sehingga menyebabkan hipogonadisme kompensasi," kata Richard Quinton, MD, dari Universitas Newcastle di Inggris dan Society for Endocrinology saat dikutip dari Fox News.

"Ini adalah studi penting yang secara elegan menggabungkan penelitian klinis dan dasar, baik pada tingkat jaringan dan seluler, untuk menunjukkan bahwa ibuprofen, penghilang rasa sakit dapat secara reversibel menghalangi produksi testosteron oleh sel testis," lanjut dia.

Quinton berharap agar hasil studi bisa menjadi informasi penting terhadap penggunaan ibuprofen atau obat penghilang rasa sakit. Sehingga masyarakat dapat secara bijak menggunakan obat penghilang rasa agar terhindar dari efek samping, seperti gastrointestinal, ginjal dan jantung.

"Studi ini harus memberi jeda untuk memikirkan olahragawan yang menggunakannya secara rutin untuk mengatasi rasa sakit dan nyeri akibat latihan," ujar Quinton.




(DEV)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG STUDI KESEHATAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 22-04-2018