Ketua GIPI Didien Djunaedi: Big Data MPD Dipakai di Eropa

- 11 Februari 2017 21:41 wib
Pengurus GIPI (Foto: dok. GIPI)
Pengurus GIPI (Foto: dok. GIPI)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dukungan Forum Masyarakat Statistik (FMS) Indonesia pada pemanfaatan Big
Data - Mobile Positioning Data) oleh BPS (Badan Pusat Statistik) diapresiasi GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia).

Meskipun, pola penghitungan Wisatawan Mancanegara (Wisman) dengan teknologi seluler ini baru diterapkan di bulan Oktober, November, Desember 2016 pada 19 Kabupaten, 46 Kecamatan, di Pos Lintas Batas atau
kawasan perbatasan dengan negara tetangga.

Didien Djunaedi, Ketua GIPI menyebut penggunaan teknologi itu pasti lebih akurat, cepat, mudah dan murah dibandingkan dengan metode sampling atau survei. Karena yang tercatat oleh mesin semua orang, mirip sensus, dan tidak ada campur tangan orang.

"Ini yang membuat trust, membangun kepercayaan pelaku bisnis Pariwisata. Mereka tidak salah mengambil
keputusan, karena membaca data yang akurat,” ungkap Didien Djunaedi.

Pemanfaatkan Big Data dalam sektor Pariwisata itu, lanjut Didien, sudah diterapkan di beberapa Negara Eropa. Contohnya Estonia, sudah melakukan pencataan dengan Mobile Positioning Data (MPD) sejak 2009, atau 8 tahun silam.

Sebab, pemberlakuan Schengen Visa di Uni Eropa, menjadikan pergerakan wisatawan antar Negara Eropa sendiri menjadi tidak signifikan, karena tidak ada pemeriksaan imigrasi di lintas batas lagi. Teknologi, bisa
dengan mudah mencatat pergerakan antarwarga Negara di Eropa dan diakui akurat.

Belgia, Irlandia, Spanyol, dan Belanda sudah melakukan pilot studi data roaming (di bawah Eurostat Pilot Project). Hal yang sama juga dilakukan di Oman, Eni Emirat Arab yang juga terdiri dari beberapa Negara,
Tanzania, dan Filipina, di bawah ITU Project).

"Alhamdulillah, Indonesia juga sudah dimulai sejak 2016, persisnya bulan Oktober, November, Desember 2017. Khususnya di pos-pos lintas batas yang masih belum memiliki TPI – Tempat Pemeriksaan Imigrasi,” jelas Didien.

Didien yang lebih dari 30 tahun bergerak di sektor pariwisata bahari itu menyadari, Indonesia sangat luas. Geografis dan prasarana yang ada belum cukup untuk menjangkau daerah perbatasan, seperti di Pulau Kalimantan bagian Utara, Papua bagian Timur, dan Pulau Timor.  

Belum lagi perbatasan di laut, yang jauh lebih sulit, yang menyebabkan data administrasi wisatawan mancanegara ke Indonesia (khususnya di perbatasan darat/laut) cenderung underestimate.


(ELG)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG WISATAWAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA WISATA & KULINER
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 28-06-2017