Hidangan Khas Cap Go Meh Warga Keturunan Tionghoa di Solo

Pythag Kurniati - 11 Februari 2017 17:51 wib
Hardjo Tjendono dan istrinya menyiapkan lontong Cap Go Meh di warungnya di kawasan Pasar Gede Solo, Sabtu, 11 Februari 2017. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)
Hardjo Tjendono dan istrinya menyiapkan lontong Cap Go Meh di warungnya di kawasan Pasar Gede Solo, Sabtu, 11 Februari 2017. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Hari kelima belas setelah perayaan Tahun Baru Imlek, masyarakat Tionghoa merayakan Cap Go Meh. Jelang Cap Go Meh, masyarakat keturunan Tionghoa di Solo memiliki tradisi menyantap makanan khas, yakni lontong Cap Go Meh.

Salah satu warung penjual Cap Go Meh berada di tepi jalan RE. Martadinata, tepatnya di sisi barat Pasar Gede Solo. Warung tersebut buka sejak 24 tahun lalu. Pantauan Metrotvnews.com, warung Cap Go Meh ramai dikunjungi pembeli.

Pemilik warung, Hardjo Tjendono, 70 mengungkapkan, lontong Cap Go Meh di warungnya hanya dijual selama tiga hari. "Kami mulai menjual lontong Cap Go Meh pada 10 Februari 2017 hingga 12 Februari 2017," ujarnya, Sabtu, 11 Februari 2017.

Hardjo yang telah menjual lontong Cap Go Meh sekitar tujuh tahun lalu itu menerangkan, lontong Cap Go Meh tidak jauh berbeda dengan lontong khas Jawa pada umumnya. Lontong dipadukan dengan opor telur ayam, sambal goreng rempelo ati, sayur-mayur dan ditaburi bubuk bercita rasa gurih.

Satu porsi lontong Cap Go Meh dibanderol Rp 30 ribu. Dalam satu hari, warungnya dapat menjual hingga ratusan piring.

Akulturasi dalam Kuliner

Lontong Cap Go Meh mewakili akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa dalam hal kuliner. Hardjo mengatakan, tradisi ini tak beda dengan menyantap lontong setelah hari raya.

Secuplik sejarah mengenai lontong Cap Go Meh diulas oleh pengurus Kelenteng Tien Kok Sie Pasar Gede, Henry Susanto. "Makanan ini sudah ada sejak abad ke-14," urai dia.

Laksamana Cheng Ho pada saat itu tiba di Pantai Utara Jawa yang sangat kental dengan makanan tradisional, salah satunya lontong. Tepat pada saat Cap Go Meh, Laksamana Cheng Ho yang juga seorang muslim saat itu menginginkan lontong sebagai hidangan penutup Cap Go Meh.

Henry meneruskan, menyantap lontong Cap Go Meh pun kemudian menjadi tradisi turun-temurun warga keturunan Tionghoa di Indonesia. "Rasa santan yang kental dan dominan menyimbolkan kentalnya kerukunan antara Tionghoa dengan Jawa sejak berabad-abad lalu," pungkasnya.




 


(ELG)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG CAP GO MEH
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA WISATA & KULINER
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 20-09-2017