Hujan 'Salju' dan Cahaya di Chingay Parade

Sjaichul Anwar - 11 Februari 2017 16:11 wib
Suasana di Chingay Parade, Singapura. MTVN/Sjaichul Anwar
Suasana di Chingay Parade, Singapura. MTVN/Sjaichul Anwar

Metrotvnews.com, Singapura: Hujan salju kertas menutup pergelaran hari pertama Chingay Parade 2017. Ditimpali guyuran cahaya dan musik mendentum, lengkap sudah keriaan di Singapore F1 Grand Prix Pit Building, Marina Bay, tadi malam.

Parade dibuka Perdana Menteri Lee Hsien Loong, diiringi suara dentuman, Jumat 10 Februari 2017, tepat pukul 18.00 waktu Singapura. Di hadapan tak kurang dari 30 ribu penonton, Loong memastikan pesta rakyat ini akan terus hidup dan menjadi inspirasi.

Selagi Loong berbicara, 8.000 peserta dari enam negara bersiap-siap di both masing-masing. Sudah sedari pagi malahan. 

Persis pukul 20.08, parade dimulai. Tampil yang pertama, kontingen Johar Baru, Malaysia, menyuguhkan tarian naga selama enam menit. Menyusul kontingen Taiwan lewat atraksi The Eight Immortal Stilt Walker dan atraksi Gagasan Emas.

Kontingen Indonesia maju ke gelanggang dengan tampilan Kuda Lumping yang diinisiasi tim Indonesia Batik-lurik Carnaval dan Institut Seni Indonesia. Juga didukung Kementerian Pariwisata dan Wonderful Indonesia.

Mengikuti Indonesia berturut-turut perwakilan dari Kamboja, Korea Selatan yang menampilkan dansa tradisional negeri gingseng, dan Jepang. Kehebohan ditutup pada pukul 22.00 dengan atraksi "We Care Singapore".

Parade Chingay

Suasana Parade Chingay Singapura. MTVN/Sjaichul Anwar

Parade Chingay Singapura saat ini menjadi pertunjukan jalanan dan pawai kendaraan hias terakbar di Asia. Dia menjadi spektrum budaya tak hanya di Singapura, tapi juga untuk etnis Tionghoa, Melayu, India, dan Eurasia. Multikultural.

Chingay--dalam dialek zhangzhou disebut chng-ge, cingge, jengge, atau tsungge, sementara dalam bahasa Mandarin dibaca zhuangyi--digagas empat dekade silam pada masa Dinasti Ming. Dia budaya Hokkian yang dihelat pada periode hari-hari raya. Imlek, misalnya. 

Carstairs Dauglas, ahli bahasa Hokkian, melukiskan chingay sebagai panggung hias berarakan. Pesertanya anak-anak perempuan dan laki dengan kostum indah. Mereka turun ke jalan pada suatu prosesi religius.

Sinolog Belanda Jan Jakob Maria de Groot menulis, di Quanzhou, potret pemujaan dewa-dewi ini disebut ngiang-ting atau penerimaan lentera. Semua medianya terbuat dari kertas. Tapi, kata Jan, tradisi ini sekarang sudah tak ada di Quanzhou.

Di Singapura, chingay mulai diparadekan pada 4 Februari 1973, sebagai pengganti pesta petasan. Tempatnya pindah-pindah, mulai dari Outram Park, Orchard Road, Distrik Civic, dan pada 2004 balik lagi ke Orchard Road. Enam tahun kemudian parade digeser ke Singapore F1 Grand Prix Pit Building, Marina Bay.

Indonesia di Parade Chingay

Kontingen Indonesia di Chingay Parade. MTVN/Sjaichul Anwar

Kementerian Pariwisata lewat Wonderful Indonesia berikhtiar mendongkrak pesona Tanah Air di mata dunia. Parade Chingay Singapura dianggap pas sebagi satu di antara pintu masuknya.

Sudah 21 tahun Indonesia menampakkan wajah di Parade Changay. Indonesia tak pernah absen sejak 1996. Hasilnya, lumayan. Pada 2016 saja, turis Singapura yang masuk ke Indonesia sekitar 120 ribuan kunjungan.

"(Harapannya bisa) mendongkrak devisa negara dari sektor pariwisata," kata Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar I Gde Pitana. 

Tahun ini, Indonesia mengirimkan tujuh tim, masing-masing Batik-Lurik Carnaval, Institute for Art Denpasar, Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Medan, Sanggar Tari Boyolali, SMA President dan SMA Al-Azhar Asyifa, serta perkumpulan mahasiswa Indonesia di Singapura (Insim).


(OGI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KEBUDAYAAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA WISATA & KULINER
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 28-03-2017