Bos Baru Uber Asia Pasifik untuk Tangani Kebijakan dengan Regulator

Ellavie Ichlasa Amalia - 14 Februari 2018 07:48 wib
Ann Lavin sebagai Senior Director of Public Policy  Government Relations, Uber kawasan Asia Pasifik.
Ann Lavin sebagai Senior Director of Public Policy Government Relations, Uber kawasan Asia Pasifik.

Jakarta: Uber menunjuk Ann Lavin sebagai Senior Director of Public Policy Government Relations untuk kawasan Asia Pasifik. Sebelum ini, wanita tersebut telah memimpin upaya kebijakan di Google untuk kawasan Tiongkok dan Asia Tenggara. 

"Saya senang Ann bisa bergabung dengan Uber dan memimpin upaya kebijakan kami di Asia Pasifik. Asia Pasifik adalah salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat dan tertinggi dalam bisnis kami," kata Jill Hazelbaker, Senior Vice President of Policy & Communications Uber. 

Salah satu tugas wanita yang akrab dengan panggilan Ann tersebut adalah untuk bekerja sama dengan pemerintah, pembuat kebijakan serta pihak-pihak terkait. Memang, belakangan, persaingan antara taksi konvensional dan aplikasi berbasis transportasi seperti Uber telah kembali memanas. 

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017 tetang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek memaksa para pengendara perusahaan transportasi berbasis aplikasi seperti Uber, Go-Jek dan Grab untuk mengurus izin dan melakukan uji KIR. 

Jika para pengemudi taksi online melanggar peraturan menteri tersebut, maka Dinas Perhubungan DKI Jakarta akan mengandangkannya. 

Uber tidak hanya menghadapi masalah eksternal, tapi juga internal. Untuk lebih tepatnya dari salah satu investor barunya: SoftBank. Pada akhir tahun lalu, SoftBank mengucurkan dana USD9,3 miliar untuk Uber.

Bergerak cepat, SoftBank telah menyarankan Uber untuk fokus di pasar tertentu saja dan meninggalkan pasar yang lain. 

Perusahaan asal Jepang itu ingin agar Uber fokus mengembangkan bisnisnya di Amerika Serikat, Eropa, Amerika Latin dan Australia, tapi tidak di Asia. Tidak heran, mengingat SoftBank juga telah menanamkan investasi di perusahaan pesaing Uber di Asia seperti Didi Chuxing di Tiongkok dan Grab di Asia Tenggara. 

Meskipun begitu, dalam pernyataan resmi, Ann mengaku senang dengan penunjukkannya ini. Alasannya adalah karena dia menganggap, pasar Asia Pasifik sebagai pasar yang dinamis. Dengan jaringan yang luas, Ann diharapkan akan bisa membantu Uber mengembangkan bisnisnya di Asia Pasifik. 


(MMI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG UBER
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS (TEKNOLOGI)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 23-05-2018