DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 19.955.605.901 (19 SEP 2018)

Melihat Ambisi AWS di Asia Tenggara

Ellavie Ichlasa Amalia - 13 April 2018 18:02 wib
AWS menyebutkan bahwa Asia Tenggara berpotensi mengejar ketertinggalannya terkait adopsi komputasi cloud atau serverless. (AFP PHOTO / LOIC VENANCE)
AWS menyebutkan bahwa Asia Tenggara berpotensi mengejar ketertinggalannya terkait adopsi komputasi cloud atau serverless. (AFP PHOTO / LOIC VENANCE)

Jakarta: Jika dibandingkan dengan negara-negara di Amerika Utara, negara-negara di Asia Tenggara masih tertinggal soal penggunaan cloud computing.

Meskipun begitu, Managing Director Amazon Web Services, ASEAN, Nick Walton percaya, Asia Tenggara justru bisa belajar dari kesalahan negara-negara lain yang telah lebih matang. 

"Kawasan Asia Tenggara memang sedikit lebih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara yang pasarnya telah matang seperti Amerika Utara," kata Walton saat ditemui dalam AWS Summit.

"Tapi mereka punya kesempatan untuk belajar dari kesalahan negara yang pasarnya lebih matang dan langsung mengejar ketertinggalannya."

Saat ditanya apa perbedaan pelanggan AWS di Asia Tenggara jika dibandingkan pelanggan mereka di Amerika Serikat atau Eropa, Walton menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keduanya. 

"Alasan utama perusahan menggunakan komputasi cloud adalah ongkos yang lebih rendah," kata Walton. "Saya rasa, pelanggan di Asia Tenggara sama seperti pelanggan di Eropa dan AS. Mereka ingin mendapatkan harga dan performa baik yang kami berikan."

Lebih lanjut dia menjelaskan, sama seperti pelanggan di pasar yang lebih maju, perusahaan dan startup yang ada di Asia Tenggara juga ingin menggunakan teknologi-teknologi baru -- seperti komputasi cloud, komputasi serverless, pembelajaran mesin atau machine learning, kecerdasan buatan atau AI -- untuk membuat inovasi baru. 

"Mereka (perusahaan dan startup di Asia Tenggara) ingin berinovasi dan bereksprerimen dan mencoba berbagai hal baru. Mereka ingin mendapatkan akses pada infrastruktur kelas dunia," ujar Walton. "Secara pribadi, saya optimistis akan masa depan Asia Tenggara."

Dia merasa, teknologi paling canggih yang bisa ditawarkan oleh AWS, jika digabungkan dengan kreativitas, kemampuan dan semangat wirausaha, maka itu akan menjadi "kombinasi yang menarik."

"Kita akan melihat meningkatnya berbagai inovasi di seluruh kawasan Asia Tenggara," kata Walton.



Salah satu startup Indonesia yang menurutnya menarik adalah HaloDoc. Startup tersebut berusaha memudahkan masyarakat mengakses layanan medis. Melalui aplikasi, pengguna bisa menghubungi dan berkonsultasi dengan dokter tanpa harus datang ke rumah sakit atau klinik tempat dokter praktek. 

Apa yang membuat perusahaan mulai menggunakan cloud?
Penghematan biaya menjadi salah satu alasan utama perusahaan mengadopsi layanan cloud, ungkap Walton. Dia menjelaskan, salah satu klien AWS, DBS Bank dapat menghemat ongkos hingga 60 persen. Tidak hanya itu, adopsi cloud juga memungkinkan mereka untuk meluncurkan layanan dengan lebih cepat. 

Walton menjelaskan, meski pada awalnya perusahaan mengadopsi cloud karena ingin menghemat biaya, bagi mereka, fakta bahwa mereka bisa bergerak dengan lebih lincah berkat cloud bahkan menjadi alasan yang lebih penting. 

AWS tidak hanya menawarkan layanan terkait komputasi cloud dan komputasi serverless, tapi juga pembelarajan mesin dan juga AI. Tidak aneh, mengingat Amazon memang sudah menggunakan pembelajaran mesin dan AI sejak situs e-commerce Amazon hadir. Ketika itu, teknologi tersebut hanya digunakan untuk memberikan rekomendasi pada pengguna. 

"Filosofi kami adalah bagaimana kami bisa memungkinkan semakin banyak orang mengakses AI dan machine learning," kata Walton.

"Saat ini, hanya ada sedikit ahli yang memiliki akses dua teknologi tersebut. Memudahkan akses untuk dua teknologi tersebut akan menjadi sangat menarik, untuk melihat ide apa yang akan muncul atau masalah apa yang akan diselesaikan."

Cara AWS menggaet pelanggan
AWS menawarkan lebih dari 100 solusi yang bisa digabungkan menjadi kombinasi yang beragam. Dengan begitu, pelanggan AWS bisa memilih dengan bebas solusi apa saja yang ingin mereka gunakan sesuai dengan kebutuhan. Namun, karena ada begitu banyak kombinasi yang bisa digunakan, maka AWS mempekerjakan orang-orang yang disebut Solutions Architect. 

Santanu Dutt adalah salah seorang pemimpin tim Solutions Architects AWS di Asia Tenggara. Tugas Solutions Architect, menurut penjelasan Dutt, adalah mengunjungi kantor calon pelanggan AWS dan membantu mereka untuk membangun desain arsitektur yang paling sesuai untuk mereka. 



"Jika mereka ingin memindahkan workload mereka ke AWS cloud, kami harus menentukan seperti apa desainnya, solusi apa yang paling efisien dan aman untuk mereka," ujar Dutt.

Menariknya, AWS tidak hanya melakukan ini pada calon pelanggan, tapi juga perusahaan-perusahaan yang memang telah menjadi klien mereka. "Kami terus berusaha memperbaiki layanan untuk pelanggan."

Dutt menjelaskan, waktu yang dibutuhkan bagi perusahaan untuk mulai menjadi pelanggan AWS beragam. "Sebuah perusahaan kecil, jika mereka punya kartu kredit, mereka bisa langsung mendaftar melalui situs dan langsung menggunakan layanan AWS," ujarnya.

Namun, dia mengatakan, bagi perusahaan yang memerlukan solusi yang lebih kompleks, maka mereka bisa menghubungi AWS secara online

FinAccel, startup yang sejak awal "hidup" di ekosistem AWS
FinAccel, startup di balik Kredivo, adalah salah satu pelanggan AWS dari Indonesia. Startup yang bertujuan untuk meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia itu telah menggunakan layanan dari AWS sejak ia didirikan pada dua tahun lalu.

"Kami sedikit berbeda dari kebanyakan perusahaan yang melakukan migrasi ke cloud," kata Akhsay Garg, Co-founder dan CEO FinAccel. "Kami mulai sebagai perusahaan cloud. Sejak hari pertama, kami sudah menggunakan layanan AWS cloud."

Tidak hanya itu, dalam waktu enam bulan, jumlah layanan AWS yang digunakan oleh FinAccel meningkat hingga 30 persen.

Salah satu perubahan yang FinAccel lakukan adalah mengganti layanan EC2 -- platform cloud berbasis server -- dengan AWS Lambda, platform komputasi serverless. Alasannya, Akhsay menjelaskan, adalah karena Lambda menawarkan performa yang lebih dinamis. 

Kredivo, layanan dari FinAccel, merupakan layanan kartu kredit digital, memungkinkan semua orang yang memiliki smartphone untuk meminjam uang untuk membeli barang di e-commerce. Layanan Kredivo secara langsung terintegrasi dengan e-commerce. Seperti yang disebutkan oleh Akshay, e-commerce di Indonesia sangat fluktuatif. 

Pada momen-momen tertentu -- seperti Hari Raya Idul Fitri atau Hari Belanja Nasional -- maka jumlah orang yang berbelanja di situs e-commerce sangat banyak. Namun, di hari-hari biasa, jumlah orang-orang yang berbelanja menurun.

"Menggunakan AWS Lambda untuk layanan kami memungkinkan kami untuk mengubah skala layanan dengan lebih mulus," katanya. 



Kenapa AWS?
"AWS menawarkan produk terbaik, itu sudah pasti. AWS adalah pemimpin pasar," kata Akhsay saat ditanya alasan dia memilih AWS sejak awal startup miliknya didirikan. "Dari segi harga, mereka sangat fleksibel dengan kebutuhan kami.

"Mereka punya program startup, sehingga harga yang mereka tawarkan pada kami sedikit berbeda dari harga untuk perusahaan besar. Itu kabar baik bagi kami. Itu artinya, kami tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah banyak sejak awal."

Akshay mengaku, sejak awal FinAccel didirikan, "Kami hidup di dunia AWS." Di satu sisi, ini memudahkan mereka jika mereka ingin menambahkan atau mengubah jenis layanan dari AWS yang mereka gunakan.

Di sisi lain, itu artinya, mereka memang sangat menggantungkan diri pada AWS. Namun, dia mengaku tidak khawatir dengan itu. 

"Apakah kami khawatir karena kami terlalu menggantungkan diri pada AWS? Tidak juga. Itu akan mengkhawatirkan jika kami adalah perusahaan raksasa, seperti bank. Anda tidak bisa menmasang semua layanan Anda pada satu penyedia jika Anda adalah bank, karena Anda tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya," ujar Akhsay. "Tapi kami tidak punya kekhawatiran itu."

"Kami tahu kami bekerja bersama dengan rekan yang bisa diandalkan, yang tidak hanya telah mendukung ribuan perushaaan, tapi puluhan ribu perusahan di dunia," katanya. "Jika Anda tidak bisa percaya AWS, siapa yang bisa Anda percaya?" lanjutnya sambil tertawa. 


(MMI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG CLOUD COMPUTING
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS (TEKNOLOGI)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 20-09-2018