DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.052.810.215 (14 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Cara Red Hat Kurangi Kompetitor dan Tambah Pelanggan

Mohammad Mamduh - 12 Juli 2018 13:09 wib
Acara Red Hat Partner Conference APAC 2018
Acara Red Hat Partner Conference APAC 2018

Bali: Red Hat selama ini dikenal sebagai penyedia solusi korporasi berbasis Linux. Orang awam paa umumnya melihat bahwa Linux sebagai sistem operasi open source yang kompleks.

Windows buatan Microsoft adalah kompetitor sejati, yang menawarkan kemudahan untuk konsumen. Namun, paham tersebut tidak lagi berlaku di era transformasi digital saat ini.

Dalam acara Partner Conference APAC 2018 di Nusa Dua, Bali, Red Hat menekankan kerja sama yang terjalin antara mereka dengan Microsoft. Dalam hal inovasi untuk open source, Red Hat menyebutkan bahwa kerja sama ini sudah berlangsung sejak lama.

“Ini cocok untuk mereka, para perusahaan yang ingin menggunakan cloud dari beberapa platform,” kata Frank Feldmann, Vice President of APAC Office of Technology, Red Hat.

Kerja sama Microsoft dan Red Hat dalam menyediakan dan mengintegrasikan container OpenShift di atas Azure memungkinkan sinergi antar platform. Beberapa perusahaan biasanya mengadopsi beberapa platform.

Ketika sudah terintegrasi, korporasi bisa menyederhanakan dan memanfaatkan cloud hybrid. Di saat yang sama, Microsoft bisa melihat dan memperbarui celah yang mungkin selama ini belum pernah mereka lihat.

“Integrasi kini lebih mudah antara Azure, Azure Stack, dan Red Hat OpenShift,” lanjut Frank Feldmann.

Frank menambahkan, kerja sama ini juga menguntungkan Red Hat, karena selama ini Microsoft Azure merupakan layanan yang sangat populer di industri bisnis. Dengan begitu, mereka lebih mudah menawarkan OpenShift sebagai container di atas Azure. Ini cocok untuk perusahaan yang sudah atau akan mengadopsi layanan cloud buatan Microsoft tersebut.

Kerja sama ini mengubah paradigma yang selama ini menilai Microsoft lebih suka berjalan sendiri ketimbang menggandeng partner atau pesaing.

Langkah Microsoft tersebut memang diambil setelah Satya Nadella yang memiliki latar belakang di industri cloud menjabat sebagai CEO Microsoft. Ia menyatakan dukungannya terhadap inovasi open source, yang selama ini menjadi kekuatan utama Red Hat.

Langkah berikutnya yang diambil melalui kerja sama dengan Microsoft adalah dengan memasarkan lisensi berlangganan OpenShift secara gratis untuk perusahaan yang membeli aplikasi Microsoft Visual Studio.

Selain Microsoft, Red Hat juga mengumumkan integrasi OpenShift dengan layanan awan lainnya, seperti Amazon Web Services, Alibaba Cloud, NTT Data, dan IBM Cloud.

Microsoft juga melihat kerja sama ini sebagai peluang mereka memasarkan layanan yang sudah ada dengan lebih mudah. Hal ini disampaikan oleh Mike Chan, GM Cloud & Enterprise, APAC Microsoft. Ia menyebut Microsoft sendiri sudah punya beberapa layanan pendukung Azure dan Azure Stack, seperti MySql dan Visual Studio.

“Konsumen yang sudah terbiasa dengan layanan ini bisa mengkustomisasi sistem mereka lebih variatif berkat integrasi Red Hat OpenShift.”


(MMI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG MICROSOFT
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS (TEKNOLOGI)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 20-11-2018