Kerugian Uber di Q4 2017 Capai Rp15 Triliun

Cahyandaru Kuncorojati - 14 Februari 2018 15:50 wib
Uber sempat kerap menerima demonstrasi di beberapa negara tempatnya beroperasi.
Uber sempat kerap menerima demonstrasi di beberapa negara tempatnya beroperasi.

Jakarta: Perjalanan Uber sepanjang 2017 penuh lika liku. Nama Uber diperbincangkan karena banyak kasus yang menimpa mulai dari pelecehan seksual, regulasi di beberapa negara, persaingan dengan kompetitor, hingga pendiri sekaligus CEO Uber Travis Kalanick.

Uber telah melakukan tutup buku dengan menyampaikan laporan keuangan untuk Q4 2017. Kuartal ini juga menjadi kuartal pertama semenjak Uber berada di bawah CEO baru Dara Khosrowshahi di bulan September.

Dikutip dari Business Insider, di Q4 2017 Uber masih menelan pil pahit berupa kerugian yang cukup besar, yakni USD1,1 miliar (Rp15 triliun). Namun, rupanya hal ini juga menyimpan kabar baik.

Angka kerugian tersebut ternyata jauh lebih kecil dari angka di Q3 2017 yang saat itu mencapai USD1,46 miliar (Rp19 triliun). Artinya bisnis Uber sendiri di Q4 2017 masih mengalami pertumbuhan meskipun pendapatannya.

Disebutkan bahwa pendapatan per kuartal utnuk Q4 2017 jsutru mengalami peningkat 61 persen dengan nilai USD2,22 miliar (Rp30 triliun) dari periode kuartal yang sama di tahun 2016.

Kerugian yang mereka alami dalam laporan finansial Q4 2017 diakibatkan oleh konsekuensi kekalahan mereka di pengadilan dalam berbagai kasus hukum yang membuat Uber harus membayar ganti rugi.

Dalam konfirmasi Khosrowshashi, layanan UberEats justru mencatatkan hasil yang sangat bagus. Layanan tersebut berhasil mengantongi pendapatan kotor hingga USD4 miliar (Rp54 triliun) dan berkontribusi sebesar 10 persen ke bisnis Uber.


(MMI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG UBER
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS (TEKNOLOGI)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 20-02-2018