DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Pembaruan Chrome Dianggap Rusak Privasi

Ellavie Ichlasa Amalia - 25 September 2018 10:38 wib
Pembaruan terbaru Chrome mengundang protes dari para kritikus.
Pembaruan terbaru Chrome mengundang protes dari para kritikus.

Jakarta: Para ahli keamanan memprotes tentang pembaruan paad peramban Chrome milik Google. Mereka menganggap, update itu merusak privasi pengguna. 

Masalah ini kompleks. Namun, masalah utamanya adalah tentang bagaimana dan kapan pengguna memilih untuk masuk ke akun peramban Chrome -- yang berbeda dari sekadar masuk ke layanan Google seperti Gmail.

Pada versi Chrome yang lebih lama, pengguna harus memilih untuk masuk ke akunnya pada Chrome. Dengan begitu, mereka akan bisa menyinkronkan informasi seperti bookmarks, password dan history pada setiap perangkat. 

Fitur ini Google sebut sebagai "Chrome Sync". Memang, ini akan memudahkan pengguna jika mereka menggunakan lebih dari satu perangkat. Tapi, ini juga berarti bahwa data mereka disimpan di server Google, sesuatu yang mungkin membuat sebagian orang khawatir, seperti yang disebutkan The Verge.

Ketika Google merilis Chrome 69, ketika seseorang masuk ke layanan seperti Gmail dan YouTube mereka akan secara otomatis masuk ke Chrome juga. Menurut para kritikus, ini adalah cara curang untuk mendorong pengguna untuk berbagi datanya dengan Google. 

Teknisi dan Manager Chrome, Adrienne Porter Felt lalu memberikan penjelasan tentang perubahan pada Chrome ini. Dia menyebutkan, perubahan ini dibuat untuk mencegah masalah ketika pengguna menggunakan perangkat yang digunakan bersama. 

Felt mengatakan, ketika seseorang menggunakan komputer umum dan keluar dari layanan Google seperti Gmail, mereka akan berpikir bahwa mereka juga sudah keluar dari akunnya pada Chrome.

Padahal, akun mereka di Chrome masih aktif. Dan ini memungkinkan pengguna lain untuk mengakses data pada peramban Chrome. 

Selain itu, Felt juga menyebutkan, masuk ke Chrome bukan berarti Google bisa mengakses data pengguna. Untuk membiarkan data pengguna diakses Google, pengguna harus mengaktifkan Chrome Sync. Namun, para kritikus tidak puas dengan ini. 

Matthew Green, seorang Cryptographer dan Professor di Johns Hopkins University mengatakan bahwa meskipun Chrome Sync tidak otomatis diaktifkan, fakta bahwa pengguna langsung masuk ke akun mereka di Chrome akan mendorong pengguna membiarkan Google mengakses data mereka. 

"Perubahan ini memiliki potensi menciptakan masalah terkait privasi dan kepercayaan pengguna dan Google tampaknya tidak menyadari ini," tulis Green. 

Green menyebutkan, keputusan bagi pengguna untuk mengaktifkan Chrome Sync adalah dark pattern, yaitu trik pada antarmuka sebuah situs atau aplikasi untuk mendorong pengguna untuk melakukan sesuatu.

Dengan membuat pengguna secara langsung masuk ke akunnya di Chrome, Google telah memudahkan pengguna untuk membiarkan mereka mengakses data pengguna. 


(MMI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG GOOGLE
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS (TEKNOLOGI)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 11-12-2018