Pemanfaatan Inovasi Teknologi Menjadi Tantangan

Pelangi Karismakristi - 14 Februari 2018 16:05 wib
CUACI Inspiring Talks 2018.
CUACI Inspiring Talks 2018.

Surabaya: Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) bekerja sama dengan Curtin University sukses menggelar CUACI Inspiring Talks 2018. Event ini merupakan buah pemikiran para Curtin University Alumny Chapter Indonesia (CUACI) untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Indonesia sesuai keahlian dan kompetensi yang dimiliki.

"Kolaborasi dimungkinkan bila ada sarana untuk mengetahui tentang profesi masing-masing, sekaligus menjadi ajang untuk belajar bersama," kata dosen Fakultas Psikologi UKWMS yang juga Presiden CUACI 2017-2019 Josephine M.J. Ratna, Rabu, 14 Februari 2018.

Event yang mengangkat tema World Class Innovation and Research Commercialisation ini diselenggarakan pada Selasa, 13 Februari, di kampus UKWMS, Jalan Dinoyo, Surabaya, Jawa Timur. Selain diikuti civitas akademik UKWMS, acara ini juga dihadiri 80 alumni Curtin University dari berbagai daerah di Tanah Air.

Tak sekadar pertemuan, acara ini juga diisi kuliah tamu. Mahasiswa UKWMS mendapat penjelasan dari professor Sambit Datta mengenai penerapan teknologi dan lainnya. Sambit Datta adalah ahli penerapan teknologi komputasi dan digital dalam arsitektur.

"Memanfaatkan inovasi teknologi menjadi tantangan bagi masyarakat dan lingkungan. Diskusi ini berfokus pada peranan desain yang meluas, seiring penyesuaian atas perubahan teknologi. Ini menggunakan rancangan penelitian dari arsitektur, desain urban dan proyek-proyek warisan budaya, kita akan mengekplorasi kemungkinan akan rancangan teknologi antar muka berupa digital-fisik," jelas Sambit Datta.  

Hal lain yang juga dibahas dalam acara yang berlangsung tujuh jam ini seperti meluasnya peranan atas informasi dan alat-alat yang digunakan untuk memprosesnya. Datta memperkirakan kemungkinan-kemungkinan ke depan terkait integrasi sosial, spasial serta rancangan lingkungan yang melibatkan inovasi teknologi.
 
"Saya berbicara mengenai masa depan. Karena Anda para mahasiswa sekarang belajar dalam menyiapkan masa depan. Sekitar 20 atau 30 tahun ke depan kalian akan bertumbuh dan memulai karier baru, terjun dalam profesi, serta mengembangkan berbagai kemampuan yang akan berbeda jauh dari 30 tahun lalu," imbuhnya.

Dalam menyongsong masa depan, lanjut dia, kita harus bersiap berubah dan menyesuaikan diri dengan berbagai inovasi teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence). Sebab semua tahu ada banyak hal yang dapat dikerjakan mesin lebih baik daripada yang dikerjakan manusia.

Dunia pendidikan, khususnya kampus, juga harus beradaptasi. Curtin University di Perth, menurutnya, sedang berusaha mengaplikasikan hal ini di area kampusnya.

"Kami coba membayangkan bagaimana Curtin dalam 30 tahun ke depan, sebuah ‘kota pintar’ di mana mahasiswa bisa mengeksplorasi banyak hal. Teknologi diaplikasikan dalam bentuk-bentuk seperti sensor suhu, cuaca, dan lainnya. Tersedia pula tempat hiburan seperti teater, kafe yang juga bisa berfungsi sebagai tempat pembelajaran, orang-orang bisa tinggal, belajar hingga bekerja di sana. Kami ingin mengubah kampus menjadi sebuah kota. Saya yakin hal ini juga bisa diterapkan di Indonesia," kata Datta disambut tepuk tangan.

Tak hanya itu, menurut dia, teknologi juga dapat digunakan di tempat-tempat budaya, sejarah, bahkan pulau, dengan cara menangkap data dari objek untuk kemudian diukur secara digital agar dapat dipelajari dan diperbandingkan hasilnya.

"Ke depan dalam mengembangkan teknologi dibutuhkan berbagai disiplin ilmu, sehingga mahasiswa bisa belajar dan saling mendukung masing-masing hal," jelas Sambit.


(TRK)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG BEASISWA OSC
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS (TEKNOLOGI)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 26-02-2018