Bisnis Game dan Peluang Besar di Ranah Konsol

Ellavie Ichlasa Amalia - 14 September 2017 16:39 wib
Tim Mintsphere.
Tim Mintsphere.

Metrotvnews.com, Jakarta: Industri game merupakan bagian dari industri kreatif yang menjadi kini menjadi pusat perhatian, baik oleh masyarakat dan pemerintah. Memang, di Indonesia, jumlah developer game pun terus bertambah. Tapi, kebanyakan developer tersebut lebih memilih untuk membuat game mobile. Lain halnya dengan Mintsphere, yang lebih memilih untuk fokus membuat game untuk PC dan konsol Sony PlayStation 4. 

Saat ditemui di Central Park, CEO Mintsphere, Wilson Tjandra menjelaskan bahwa awal mula studio yang dikawalnya fokus untuk membuat game PC dan konsol adalah karena kebetulan. "Semua developer mau membuat game mobile, tapi kita nggak mau main ke sana. Jadi, kami memutuskan untuk membuat game PC, kalau bisa buat untuk konsol, malah bagus," ujarnya. 

Ketika itu, Mintsphere masih membuat game menggunakan Flash. Meskipun game yang mereka buat belum jadi, Wilson bercerita, mereka nekad untuk memasukkannya dalam perlombaan Indie Prize dalam Casual Connect Asia pada 2014. Game berjudul "Trigger Princess" buatan Mintsphere berhasil menyabet juara sebagai "game dalam pengembangan yang paling menjanjikan."



Dia mengaku merasa bangga, dalam kompetisi yang diikuti oleh peserta dari 33 negara, developer Indonesia berhasil memenangkan dua kategori. Menemani Mintsphere, Toge Production berhasil menjadi juara dalam kategori "Game Desktop Terbaik 2014" dengan Infectonator Survivors. "Dari sana, kita bertemu dengan publisher, yang tertarik dengan game ini. Itu membuka jalan kami untuk membuat game konsol," katanya. 

Telah berdiri sejak Juli 2011, Mintsphere sudah ada dalam industri game cukup lama. Sementara Wilson sendiri mengatakan bahwa dirinya telah menggeluti bidang pengembangan game selama 16 tahun. "Sebelum Mintsphere, ada startup kecil-kecil lain yang pernah saya buat. Tapi, memang Mintsphere yang paling hit," ujarnya. 

Ketika berdiri, Mintsphere hanya terdiri dari 2 orang. Sebagai idealis, kedua pendiri Mintsphere itu ingin membuat game yang mereka anggap berkualitas. Namun, membuat game yang terlalu rumit justru membuat game tidak kunjung selesai. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk memperkecil lingkup game yang dibuat. "Eh, ternyata game itu hit, dari situlah Mintsphere baru punya nama," ujarnya. 

Enam tahun sejak berdiri, Mintsphere kini memiliki 8 pekerja dengan 2 pekerja freelance. Ditemui bersama dengan Wilson, CMO Ta Ely mengatakan bahwa Mintsphere memang tidak ingin mempekerjakan terlalu banyak orang. "Kita maunya tetap kecil. Dengan sedikit orang, komunikasi akan lebih kekeluargaaan," ujarnya. "Semakin mudah untuk mengaturnya. Selain itu, semakin besar sebuah perusahaan, walau pendapatan yang masuk menjadi lebih besar, begitu juga dengan arus pengeluaran."

Meski telah berumur 6 tahun, Mintsphere hanya telah mengeluarkan 4 game. Wilson tidak mau ambil pusing terkait ini. "Kita kejar kualitas, bukan kuantitas," ujar Wilson. "Karena kita punya idealisme. Kami ingin mencapai sesuatu yang berbeda."

Apa tantangan terbesar dalam membuat game?
"Ketika kita mau buat game yang benar-benar wah, sembari waktu berjalan, teknologi juga berjalan terus. Itu yang buat kita keteteran," katanya. Dia menjelaskan, terkadang, mereka telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membuat game dengan satu teknologi, muncul teknologi baru yang membuat teknologi yang mereka gunakan menjadi ketinggalan zaman. "Akhirnya, kita harus beralih ke teknologi baru."

Wilson mengatakan, ada sebuah game yang Mintsphere sudah kerjakan selama 3 tahun menggunakan Flash. Sebelum game itu selesai, Flash sudah digantikan oleh game mobile. Akhirnya, mau tidak mau Mintsphere harus beralih ke teknologi baru. Karena itu, dia menyarankan pada orang-orang yang tertarik untuk membuat game, agar tidak membuat game yang terlalu besar. 



Membuat game besar dengan tim kecil, jelasnya, akan membutuhkan waktu lama, hingga bertahun-tahun. Selama proses ini, tidak hanya teknologi bisa berubah, semangat tim juga bisa melemah. Untuk menjaga agar semangat tim tetap hidup selama membuat sebuah game, Wilson mengatakan, salah satu resep rahasianya adalah dengan aktif mengikutkan game di kompetisi atau pameran. 

"Rasa bosan, pasti ada ya," jawab Wilson ketika ditanya apakah dia pernah merasa bosan mengerjakan satu game dalam waktu yang lama. "Tapi justru bagian paling susah dari membuat game adalah komitmen untuk menyelesaikannya," katanya. Dengan mengikutkan game dalam perlombaan, maka tim akan memiliki target. "Kalau ada lomba, mau nggak mau kan tim harus deliver. Jadi progress lebih cepat," ujarnya. 

Apa menjadi developer game sudah cukup untuk menghidupi diri?
"Pasti bisalah!" ujarnya tegas ketika ditanya tentang apakah pekerjaan sebagai developer sudah cukup untuk menghidupi seseorang. "Saya 16 tahun saja hidup dari situ." Dia mengaku, ketika mengambil jurusan desain visual di Universitas Bina Nusantara, orangtuanya sempat khawatir akan masa depannya. Namun, dia berkeras untuk membuktikan bahwa pandangan orangtuanya salah. 

Sebelum serius berkarir sebagai developer game, dia bercerita pernah mengajar di sekolah serta sebagai guru privat menggambar untuk mendapatkan uang. Selain itu, dia juga sempat menjadi dosen. "Kalau kamu memang suka, dan selama keinginanmu benar, ya kejar," katanya. 

Selama ini, dia menjelaskan, caranya untuk membuat agar Mintsphere bisa bertahan dari segi finansial adalah dengan menerima proyek dari klien. Kliennya sendiri datang dari luar negeri, seperti Amerika Serikat, Kanada dan Jepang. Dia menyebutkan, para kliennya ini biasanya hanya memintanya untuk mengerjakan artwork atau animasi gerakan. 

"Uangnya kita dapat dari situ. Tapi, anak-anakku, mereka fokus ke kerjaan sendiri. Aku yang kerja sama orang untuk bayar mereka, supaya mereka bisa mengerjakan proyek kita sendiri," kata Wilson.



Tertarik untuk membawa budaya Indonesia ke dalam game?
Wilson mengaku, tentu saja, Mintsphere tertarik untuk membawa budaya Indonesia masuk ke dalam game-nya. Namun, dia merasa, jika mereka mengangkat budaya Indonesia secara gamblang, maka game itu akan sulit untuk dikenali oleh orang-orang non-Indonesia. 

"Masing-masing developer punya cara sendiri-sendiri," ujar Wilson. Ada yang lebih memilih untuk mengangkat tema Indonesia langsung pada gamenya, katanya, terlihat dari nama game itu sendiri atau dari karakter game yang menampilkan tokoh legenda Indonesia seperti Gatot Kaca. Tapi, Wilson lebih memilih untuk menyelipkan unsur budaya Indonesia ke dalam gamenya. 

"Kita pakai gaya luar dulu. Ke depan, ketika kita sudah punya nama, baru kita buat game yang Indonesia banget," ujarnya. "Sekarang, kita masih belum, masih sekadar menyelipkan sedikit-sedikit. Walau ada teman-teman yang sudah langsung mengangkat budaya Indonesia ke dalam gamenya."


(MMI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TECH AND LIFE
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA TECH AND LIFE
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 24-11-2017