DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 45.764.339.104 (19 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Transformasi Digital adalah Proses

Ellavie Ichlasa Amalia - 28 September 2018 18:35 wib
Damien Wong saat memberikan penjelasan tentang transformasi digital. (Medcom.id)
Damien Wong saat memberikan penjelasan tentang transformasi digital. (Medcom.id)

Jakarta: Sejak munculnya perusahaan-perusahaan digital seperti Go-Jek dan Traveloka, banyak perusahaan tradisional yang kemudian melakukan transformasi digital.

Transformasi digital bertujuan membuat perusahaan besar menjadi lebih adaptif terhadap perubahan sehingga mereka tidak kalah oleh startup yang memang bisa bergerak cepat. 

Pembicaraan tentang transformasi digital sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Dan sampai saat ini, pembicaraan tentang transformasi digital masih berlangsung.

Dalam wawancara eksklusif dengan Damien Wong, Vice President and General Manager Red Hat in Asian Growth and Emerging Market, Medcom.id bisa membahas tentang fenomena transformasi digital secara lengkap. 

Transformasi digital adalah proses
Ketika ditanya berapa lama waktu yang diperlukan bagi perusahaan untuk melakukan transformasi digital, Damien menjawab: "Transformasi digital adalah proses yang terus berlangsung. Alasan mengapa perusahaan perlu melakukan transformasi adalah karena mereka terdisrupsi oleh teknologi digita baru." 

"Banyak orang yang membahas tentang Internet of Things, Machine learning dan block chain. Dari sudut pandang itu, kami percaya bahwa akan selalu ada teknologi baru yang memberikan kesempatan bagi perusahaan."

Teknologi baru mungkin  bisa menjadi jawaban dari suatu masalah yang dihadapi oleh konsumen atau perusahaan bahkan ketika mereka menyadari bahwa mereka memiliki masalah tersebut.

"Banyak perusahaan yang mulai menyadari ini. Mereka mulai sadar bahwa transformasi digital adalah sesuatu yang harus mereka lakukan," katanya. 



Menurut studi yang dilakukan MIT, sebanyak 90 persen perusahaan sudah sadar akan perlunya melakukan transformsi digital. Sayangnya, baru 16 persen perusahaan yang telah mengambil langkah untuk melakukan transformasi tersebut. 

"Tidak ada formula tentang berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan transformasi digital," kata Damien. "Kecepatan transformasi tergantung pada tingkat adopsi di perusahaan."

Biasanya, perusahaan yang lebih kecil akan bisa melakukan transformasi digital yang lebih cepat karena biasanya, mereka belum memiliki investasi atau proses IT yang kompleks layaknya perusahaan besar. 

"Perusahaan yang lebih kecil tidak memiliki tingkat kompleksitas yang sama seperti perusahaan besar terkait sistem dan proses IT," ujar Damien. "Jika sistem dan proses IT yang Anda miliki lebih sedikit, Anda bisa melakukan leapfrog."

Dia membandingkan perusahaan besar dan kecil dengan sebuah speedboat dan tanker. Memang, sebuah tanker akan memiliki keuntungan, misalnya lebih stabil. Namun, mengubah halauan kapal tanker akan lebih sulit daripada speedboat. 

Banya perusahaan tradisional, seperti perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, retail dan asuransi yang memang tidak berawal sebagai perusahaan digital. "Mereka akan mencoba untuk menggunakan model bisnis digital dan ini akan memakan waktu bagi mereka untuk menjadi digital sepenuhnya."

BRI, yang mendapatkan Red Hat Innovation Awards, telah memulai langkah mereka untuk melakukan transformasi digital. Meskipun begitu, Damien merasa, BRI akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan transformasi digital mereka. 


Pemberian hadiah dalam Red Hat Forum Jakarta 2018. 

Cara bertransformasi digital
Menurut Damien, ada dua cara bagi perusahaan untuk melakukan transformasi digital. Pertama adalah pendekatan top-down dan kedua adalah bottom-up.

"Dalam pendekatan top-down, diperlukan komitmen dari tim manajemen. Dana yang diperlukan tersedia dan orang-orang di perusahaan sudah siap untuk berubah," kata Damien. "Tapi, kebanyakan perusahaan tidak ada pada tahap ini."

"Kebanyakan perusahaan menggunakan pendekatan bottom-up. Mereka memulai transformasi digital dengan proyek kecil yang bisa menunjukkan hasil dengan cepat. Setelah itu, mereka menggunakan proses itu ke tempat yang lain," ujarnya.

"Transformasi yang sukses biasanya dimulai dengan proyek kecil yang kemudian berkembang sehingga proses itu menjadi standar bagi perusahaan."

Damien menyebutkan, pendekatan bottom-up tetap memerlukan dukungan dari manajemen atas perusahaan. Dia mengatakan, jika manajemen sama sekali enggan berubah, menolak untuk inovasi, maka perusahaan tidak akan bertahan lama. 


Damien Wong (kanan) bersama dengan Country Manager Red Hat Indonesia, Rully Maulani. 

Bagian apa dari perusahaan yang pertama kali perlu diubah?
"Transformasi digital biasanya didorong oleh kebutuhan bisnis," kata Damien. Dia menjadikan sebuah bank sebagai contoh. Jika sebuah bank tidak bisa menawarkan layanan yang sama seperti bank lain pada aplikasinya misalnya, maka bank itu akan akan ditinggalkan oleh nasabah. 

"Transformasi digital adalah tanggapan dari ancaman oleh pemain digital lain," ujar Damien. "Dengan begitu, perusahaan akan menjadi semakin digital. Setelah itu perusahaan mungkin akan mulai mengantisipasi perubahan. Sebelum ada pihak lain yang mengancam bisnis saya, saya akan meluncurkan layanan baru terlebih dulu. Inilah perusahaan yang akan menjadi digital disruptor." 

Damien menggambarkan keadaan sekarang dengan pernyataan dari Charles Darwin: "Bukan spesies yang paling kuat atau yang paling pintar yang akan bertahan hidup, tapi spesies yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan."

Karena itu, dia berharap bahwa akan ada lebih banyak  perusahaan yang sadar akan pentingnya melakukan transformasi digital. 


(MMI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG RED HAT
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA TECH AND LIFE
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 21-10-2018