Alamat Palsu Perusahaan Cangkang

Wanda Indana - 10 November 2017 15:29 wib
Ilustrasi: MTVN/Mohammad Rizal
Ilustrasi: MTVN/Mohammad Rizal

Metrotvnews.com, Jakarta: Ting...tong... Setelah beberapa kali bel rumah mewah bercat krem itu berbunyi, akhirnya seorang ibu keluar dari dalam rumah tersebut.
 
“Maaf, enggak ada yang namanya Sumadi di sini. Mungkin salah alamat. Yang punya rumah namanya Agus,” ujar wanita paruh baya itu kepada tim Telusur Metrotvnews.com sambil keheranan.
 
Berdasarkan dokumen Offshore Leaks milik The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), rumah yang kami datangi pada Rabu 8 November 2017, di Jalan Pluit Samudera 5 No. 9, Jakarta Utara, tercatat sebagai alamat kantor cabang perusahaan cangkang, Grandfield Holdings Group Limited.

Disebutkan pula, seorang warga negara Indonesia bernama Sumadi, tercatat sebagai pemegang saham di perusahaan tersebut.


Rumah di Jalan Pluit Samudra, tercatat sebagai alamat Grandfield Holdings Group Limited. MTVN/Wanda Indana

Grandfield Holdings Group Limited didirikan pada 1 April 1999, di British Virgin Island, salah satu yurisdiksi di bawah dependensi Britania Raya. Negeri ini juga merupakan suaka pajak (tax haven country) favorit para penghindar pajak, untuk memarkirkan uangnya.

Pembentukan Grandfield Holdings menggunakan jasa Portcullis Trustnet, firma hukum yang berbasis di Singapura. Firma hukum ini sempat tenar kala dokumennya terbongkar pada 2013.
 

Terungkap, Portcullis Trustnet membantu 77.000 kliennya untuk membuat perusahaan cangkang. Lebih dari setengahnya berasal dari Cina, Taiwan, dan beberapa negara di Asia Tenggara. Sementara ada 2.981 pemilik uang asal Indonesia dari 23 perusahaan.

 
Yang menarik, masih berdasarkan Offshore Leaks, Grandfield Holdings Group Limited terafiliasi dengan Aquarius Finance Enterprises Limited, yang dikendalikan oleh terpidana kasus korupsi Bank Century, Hartawan Aluwi.


Pelaku korupsi Bank Century Hartawan Aluwi. ANTARA 
 
Aquarius Finance sendiri dibentuk dengan bantuan Portcullis Trustnet. Alamat pendiriannya sama dengan Grandfield, yakni, Portcullis TrustNet Chambers P.O. Box 3444 Road Town, Tortola, British Virgin Islands.
 
Seiring dipidanakannya Hartawan Aluwi, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan agar aset Aquarius Finance Enterprises Limited dirampas, karena terbukti terkait dengan duit korupsi Bank Century.
 
Keputusan bernomor 1838/Pid.B/2014/PN.JKT.PST itu dikeluarkan pada 6 Agustus 2015. Namun, hingga kini Kementerian Hukum dan HAM mengaku belum berhasil membawanya pulang ke Indonesia.

Baca: Pemburu Aset Digocek Koruptor


Dokumen keputusan perampasan aset Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
 

Bantuan Singapura
 
Tak berhenti di situ. Pencarian kami berlanjut ke Jalan Janur Hijau VIII TC 1-9 Kelapa Gading, Jakarta Utara.
 
Masih berdasarkan dokumen Offshore Leaks, seharusnya alamat tersebut merupakan kantor sebuah perusahaan cangkang bernama Financecorp Limited. Tercatat pula, pemilik sahamnya bernama Aluinanto Sandjojo.
 
Financecorp Limited termasuk perusahaan yang terafiliasi dengan Aquarius Finance Enterprises Limited, sebagai pemilik saham.

Perusahaan ini didirikan di British Virgin Island, juga melalui bantuan firma hukum Portcullis Trustnet. Selain di Indonesia, Financecorp Limited memiliki kantor cabang di Taiwan, Singapura, Thailand, Myanmar, India, Australia, dan Malaysia.



Jaringan Aquarius Finance Enterprises Limited. OFFSHORE LEAKS ICIJ

 
Setibanya di lokasi, pandangan kami tertuju pada rumah megah lantai dua bercat putih dengan tiga kamera CCTV yang terpasang di bagian depan rumah.
 
Tak disangka, setelah kami mencoba menemui pemilik rumah, seorang pria pun menyambut. Pria itu mengaku bernama Aluinanto Sandjojo, sosok yang kami cari.
 
Sandjojo, yang saat itu baru pulang bekerja, bersedia memberikan keterangan kepada kami.
 
Sandjojo, akrab disapa Sanjaya, mengaku pernah mendirikan perusahaan di luar negeri, tepatnya di Singapura, sekitar tahun 2000. Dengan bantuan sebuah firma hukum, dia mendirikan perusahaan minyak dan gas (Migas).
 

Anehnya, Sanjaya tak mengenal perusahaan Financecorp Limited, termasuk nama Hartawan Aluwi.


“Sudah lama sekali itu,” ujar Sanjaya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
 
Awalnya, Sanjaya mendapat ‘proyekan’ di Irak dan Nigeria untuk menggarap ladang minyak dan gas di sana. Karena membutuhkan modal besar, Sanjaya bersama dengan rekan bisnisnya membuat perusahaan di Singapura.
 
Bukan tanpa alasan. Pendirian perusahaan di Singapura dilakukan untuk mendapatkan fasilitas kredit dengan tingkat suku bunga yang rendah. Negeri Singa juga menawarkan kemudahan adminitrasi bisnis.
 
“Kalau di Singapura, bunganya masih 4 persen, kalau di Indonesia di atas 10 persen, kurang kompetitif. Lagipula, bank-bank di Indonesia sangat berhati-hati menyalurkan kredit,” ungkap Sanjaya.
 
Namun, proyek Sanjaya gagal terealisasi akibat gonjang ganjing politik di Irak dan invasi Amerika Serikat 2003 silam. “Irak hancur, proyek otomatis tak jalan. Setelah itu, perusahaan saya sudah tidak aktif lagi,” ujarnya.
 

Sebagai pebisnis, Sanjaya tak menampik bila ada pengusaha nakal yang memanfaatkan perusahaan cangkang untuk menimbun uang dan menghindari pajak. Hal ini sudah terjadi jauh sebelum era reformasi.

 
“Tahu sendiri zaman Orba (orde baru) seperti apa. Saya yakin, jumlah uang yang dirampok jauh lebih besar dari yang kita lihat di televisi,” ujar Sanjaya terkekeh.

Sanjaya tak heran jika namanya masuk dalam dokumen Panama Papers, yang geger pada 2016 lalu. Menurut dia, dugaan penyalahgunaan data bisa saja terjadi.
 
“Saya sempat lihat nama saya ada di Panama Papers, tapi itu data sudah lama. Tapi bisa saja itu (pencatutan) terjadi,” duga Sanjaya.
 

Jaringan perusahaan Hartawan Aluwi lainnya, Meticulous Offshore Investments, yang asetnya diputuskan pengadilan untuk dirampas. OFFSHORE LEAKS ICIJ


PENULUSURAN kami berlanjut ke Jalan Cempaka Putih Timur IV B/8 Jakarta Pusat. Di sana, kami hendak menemui, Dino Koeshandery. Menurut dokumen Offshore Leaks, Dino juga tercatat sebagai pemegang saham di Financecorp Limited.
 
Ibu mertua Dino terkejut dengan kedatangan kami. Apalagi, dia baru mengetahui bahwa nama menantunya masuk dalam daftar WNI yang memiliki perusahaan cangkang di luar negeri.
 
“Tapi, nggak mungkin menantu saya bisa masuk. Kita bukan keluarga kaya, kok,” ucap perempuan berdaster biru itu keheranan.
 
Usai perbincangan singkat itu, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Mencoba menyambangi beberapa rumah yang lain, yang tercatat sebagai alamat perusahaan cangkang, juga terafiliasi dengan perusahaan cangkang Hartawan Aluwi.
 
Hasilnya sama, ada yang tidak mengenal nama yang kami cari, ada yang namanya cocok namun tidak mengenal perusahaannya, bahkan ada pula yang alamatnya tidak ditemukan.


Rumah di Jalan Cempaka Putih IVB, Jakarta Pusat, tercatat sebagai kantor Financecorp Limited. MTVN/Wanda Indana
 
Inilah nasib segelintir rumah dari ratusan alamat di Jakarta yang tercatat sebagai kantor perusahaan cangkang - bocoran Offshore Leaks dan Panama Papers.
 
Kini, data baru telah terbongkar, yakni, Paradise Papers. Semoga tidak ada alamat dan nama Anda di sana, sebagai perusahaan siluman, pendukung pelarian uang besar milik orang kaya penghindar pajak.
 
Baca: Tak Ada Cangkang yang Tak Retak
 


(COK)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PANAMA PAPERS
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS(TELUSUR)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 21-11-2017