Menenteramkan Kalijodo

Wanda Indana - 15 Mei 2017 13:53 wib
Sejumlah warga memanfaatkan hari libur panjang mereka dengan berlibur ke kawasan Kalijodo, Jakarta. (MI/Galih Pradipta)
Sejumlah warga memanfaatkan hari libur panjang mereka dengan berlibur ke kawasan Kalijodo, Jakarta. (MI/Galih Pradipta)

Metrotvnews.com, Jakarta: Seorang pria berperawakan tegap berdiri di pinggir Jalan Kepanduan II, kawasan Taman Kalijodo, Tambora, Jakarta Barat. Pandangannya tajam ke arah ujung jalan. Tiba-tiba ia memekik, “Komandan datang, siap-siap!”.

Mendengar itu, tiga orang rekannya yang tengah santai-santai di pos penjagaan kontan melompat bangkit dari duduknya. Mereka buru-buru berjejer dengan pandangan menunduk buat menyambut kedatangan seseorang di dalam mobil Mistubishi Pajero Sport bercat hitam.

Tulisan ‘Bintang Timur’ terpampang pada bagian depan kaca mobil. Mobil itu berhenti dan parkir di depan kantor operasional taman Kalijodo. Seorang pria berkaos hitam keluar lewat pintu depan mobil. Sambil membuka kacamatanya, dia menoleh ke arah kami.

Namanya Jamaluddin, beken disapa Daeng Jamal. Boleh dibilang, dia tokoh disegani di wilayah Kalijodo saat ini. Hampir semua orang di kawasan ini mengenal namanya.

Sesosok pria bertubuh gempal menghampiri Jamal. Sambil membungkuk, ia tampak membisikkan sesuatu. Jamal pun kelihatan serius mendengarkan, dahinya mengerut, kepalanya menganguk-angguk.

“Diatur saja,” ucap Jamal kepada anak buahnya.

Perlahan, Jamal berjalan mendekati tim Telusur Metrotvnews.com. Senyumnya pun mengembang kala menyapa kami. Sekilas, perawakan Jamal seperti warga biasa. Wajahnya tak ada kesan sangar.

“Kita santai saja ya di sini,” ujar Jamal memulai perbincangan dengan Metrotvnews.com, di bawah tenda berterpal merah, di pinggir kali Angke, Tambora, Kamis 11 Mei 2017.

Jamal bukan warga asli Kalijodo. Memang, dia pernah tinggal di Kalijodo, tapi tak lama. Kabarnya, pada era 90-an, kepergiannya dari Kalijodo lantaran sempat berselisih paham dengan kepala preman Kalijodo, Daeng Aziz. Jamal memilih angkat kaki dari Kalijodo dan membangun bisnis di luar.

Tapi, Jamal buru-buru membantah. Dia mengaku tak punya hubungan dengan Daeng Aziz. “Saya tak ada hubungannya dengan dia,” ujarnya.

Kepada kami, Jamal menceritakan ia memang punya banyak usaha. Bisnis utamanya bergerak di bidang jasa keamanan dan pergudangan di beberapa lokasi. Anak buahnya tak kurang dari 2.000 orang. Jamal mempekerjakan anak buahnya untuk menjaga dan mengamankan beberapa lahan yang bersengketa.

Salah satu pengguna jasanya adalah hotel Hariston, berjarak 50 meter dari taman Kalijodo. Di Muara Karang, Jakarta Utara, dia membuka bisnis lahan parkir. Selain itu, Jamal juga memiliki bisnis pergudangan di kawasan Kalideres, Jakarta Barat. Dia mengendalikan 14 gudang.

Ia menuturkan, ribuan anak buahnya punya loyalitas yang tinggi. Termasuk, rela mati untuknya. Hal ini banggakan sebagai hasil dari gaya kepemimpinan dengan menciptakan ikatan emosional yang kuat dengan anak buahnya. “Tidak perlu diragukan lagi loyalitas dari anak-anak. Kalau saya suruh terjun ke kali, terjun ke kali mereka. Mereka siap mempertaruhkan nyawa untuk saya,” ujar Jamal enteng.

Membina ribuan anak buah yang memiliki loyalitas tinggi tak gampang. Jamal bilang, ada resepnya. “Saya punya metode memimpin yang mungkin berbeda dengan orang lain. Sebenarnya ini rahasia, tapi kali ini saya mau berbagi, termasuk berbagi kepada orang yang mau menjadi pemimpin,” kata Jamal.

Jamal mengungkapkan, ada tiga pola untuk membangun loyalitas anggota. Pertama, memperlakukan bawahan sebagai saudara. Jangan menganggap bawahan seperti karyawan atau suruhan. “Saya makan mereka harus makan. Mereka sakit saya juga sakit. Saya yang sakit, mereka lebih parah sakitnya,” imbuhnya.

Kedua, memahami karakter anak buah. Ini penting untuk mengenali kelebihan dan kekurangan anak buah. Dengan begitu, permasalahan akan mudah diselesaikan ketika ada gesekan antaranggota. “Biasanya, para pemimpin itu, anak buah yang beradaptasi dengan pemimpin. Tapi saya kebalikannya, saya yang beradptasi ke semua orang-orang saya ini,” imbuh dia.

Karena menganggap anak buah seperti saudara, maka Jamal seperti memiliki tanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan semua anggota. Jadi tak heran, Jamal rela berjuang agar anak buahnya mendapat kehidupan yang layak.

Khusus di Kalijodo, Jamal mengerahkan 65 orang anak buahnya. Sebagian warga eks Kalijodo yang kehilangan pekerjaan. Kata Jamal, 65 anggotanya itu sudah mendapat pekerjaan. Ada yang menjadi juru parkir, petugas kebersihan, dan pedagang di taman Kalijodo.


Jamaluddin (MTVN/Wanda)

Perubahan Kalijodo

Pada 29 Februari 2016, lokalisasi pelacuran di kawasan Kalijodo digusur. Saat itu juga, warga setempat harus segera direlokasi ke beberapa rumah susun. Sebab, pemerintah hendak membangun kawasan hijau dan ruang terbuka publik di atas lahan Kalijodo.

Waktu itu, Jamal turut menerima aduan warga korban gusuran ketika hendak meninggalkan Kalijodo. Maka, ia pun membantu beberapa warga agar mendapat jatah rumah susun.

Pemprov DKI Jakarta yang dipimpin Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menunjuk PT Bumi Serpong Damai, anak perusahaan PT Sinarmas Land, untuk menggarap proyek pembangunan Taman Kalijodo yang menggunakan dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).

Seiring tamatnya bisnis hiburan malam di lokalisasi Kalijodo, Jamal memanfaatkan momen itu untuk pulang kampung. Namun, pada Desember 2016, Jamal kembali melirik Kalijodo. Jamal sering bertandang ke Kalijodo untuk mengawasi pembangunan taman di sana. Secara pribadi, Jamal mendukung kebijakan Ahok yang menghancurkan kawasan maksiat itu yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

“Saya merasa prihatin saja, karena secara tidak langsung tinggal di area sekitar wilayah ini. Adanya program pemerintah pada saat itu untuk menertibkan lokalisasi patut didukung. Dari aturan pemerintah sudah dilarang, apalagi dari aturan agama,” ujar Jamal.

Karena sering datang ke Kalijodo, Jamal pun berkenalan dengan pengawas proyek. Pendek kata, Jamal dimintai bantuan buat mengamankan kawasan proyek pembangunan taman Kaljodo. Sebab, pihak pengembang tak mau diganggu oleh pihak-pihak luar yang acap datang ke areal proyek untuk menagih uang keamanan dengan mengatasnamakan diri sebagai ormas dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

“Alhamdulillah, selama saya di sini tidak ada satupun ormas masuk ke sini minta sumbangan atau minta koordinasi. Jangankan hal-hal seperti itu, materialnya, seperti satu batang besi pun tidak ada yang hilang. Dia (PT Sinarmas) mengakui punya banyak proyek di mana-mana, hanya di sini proyeknya yang paling aman,” jelas dia.

Jamal menegaskan bahwa ia tak punya kedekatan khusus dengan para petinggi Sinarmas. Jamal bisa masuk ke Kalijodo hanya karena dimintai bantuan. Jamal diangkat menjadi kordinator keamanan di lokasi proyek Taman Kalijodo. “Saya tidak ada kepentingan pribadi di sini,” katanya.

Mendapat amanat sebagai koordinator keamanan, membuat Jamal punya kekuasaan mengatur Kalijodo. Jamal pun merekrut sejumlah warga eks Kalijodo untuk diberdayakan menjadi juru parkir. Apalagi, sejak Desember 2016, warga sudah ramai mengunjungi Taman Kalijodo. Saat itu, area skate park dan lintasan sepeda sudah rampung dan bisa dipakai.

Melihat pengunjung makin banyak dari hari ke hari, Jamal kembali mengajak warga eks Kalijodo untuk mengisi lapak-lapak dagangan di kawasan ini. Kata Jamal, ada tujuh mantan Pekerja Seks Komersial (PSK) yang diberi modal untuk berjualan makanan di Taman Kalijodo.

“Dalam proses pembangunannya pun saya selaku tokoh muda di sini merangkul anak-anak sekitar, baik dari PAM Swakarsa, warga bantaran kali, saya rangkul dan saya rekrut untuk kita berdayakan,” kata dia.


Petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta memeriksa sistem gate parkir di RTH RPTRA Kalijodo. (MI/Galih Pradipta)

Masa depan

Jamal sudah berhasil memberdayakan 65 anak buahnya memperoleh pekerjaan di Kalijodo. Tapi, Jamal masih belum tenang. Dia tak ingin, anak buahnya kehilangan pekerjaan ketika pengelolaan taman Kalijodo diserahkan ke Dinas Pemberdayaan Perempuan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DPMPKB) DKI Jakarta.

Saat ini, pengelolaan Kalijodo masih menjadi tanggung jawab PT Sinarmas Land selaku perusahaan yang membangun taman, yang kini diberi nama Ruang Terbuka Hijau dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RTH-RPTRA) Kalijodo. Tanggungjawab PT Sinarmas Land berlaku selama 100 hari.

Jamal pun berupaya menyambangi pejabat dinas terkait untuk melegitimasi posisi anak buahnya agar tak kehilangan pekerjaan. Dia mengakui, 65 anak buahnya yang dipekerjakan di Kalijodo masih sebatas informal.

“Ketika nanti Pemerintah Daerah mengambil alih, saya hanya berharap, (Pemprov DKI) melanjutkan apa yang sudah saya bentuk di sini. Dalam arti, melanjutkan agar anak-anak tetap diberdayakan. Mungkin selama saya rekrut, saya yang berdayakan dengan swadaya pribadi saya masih sebatas informal. Tapi ketika Pemda sudah masuk, mereka tetap dipakai dengan sistem formal,” pinta Jamal.

Buat memastikan anak buahnya tetap dapat bekerja di Kalijodo, Jamal mengaku sudah bertemu dengan beberapa pejabat di Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Jamal sampai memohon kepada pejabat dinas terkait agar anak buahnya tetap bisa bekerja.

“Saya datang ke mereka, bahkan ke Kepala Dinas Perhubungan Pak Andri Yansyah juga pernah. Khususnya Kepala UP Perparkiran DKI, Bu Theodore Sianturi. Saya hanya minta, saya tidak mau tempat hiburan yang bagus ini tidak dicemari opini dari luar bahwa kegiatan perparkiran di sini ilegal,” kata dia.

Rabu 12 April 2017, Jamal juga membawa tiga anak buahnya yang juga warga eks Kalijodo ke Kantor Dinas Kehutanan DKI di Jalan Aipda K. S. Tubun, Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di sana, Jamal menemui Kabid Pemberdayaan Masyarakat dan Penegakan Hukum (PMPH) Dinas Kehutanan DKI Jakarta, Henry Perez Sitorus.

Kepala Seksi Penegakan Hukum Dinas Kehutanan DKI Jakarta, Dwi Kaisar, yang turut hadir pada pertemuan itu mengatakan, Jamal mengajak berkoordinasi terkait pemberdayaan warga eks Kalijodo agar bisa bekerja di taman Kalijodo. Ketiga anak buah Jamal juga diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya.

Komitmen Jamal untuk mendukung perubahan di Kalijodo disambut baik. Namun, pemerintah tetap punya standar untuk mempekerjakan warga di Kalijodo. Artinya, usulan Jamal masih dipertimbangkan. “Kalau ingin Kalijodo menjadi tempat yang baik, ya caranya yang perlu diselaraskan. Kalau qualified (sesuai kualifikasi) kami berdayakan,” kata Dwi.

Namun, Dwi menegaskan, pihaknya tidak menjanjikan apapun kepada Jamal. Ia menekankan bahwa ini menjadi penting demi tidak memberikan kesan negatif di mata publik terkait kunjungan Jamal tersebut ke Kantor Dinas Kehutanan DKI.

“Tidak ada sesuatu yang transaksional. Tidak ada tawar menawar. Semua harus ikut aturan,” kata Dwi.
 


(ADM)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG RPTRA KALIJODO
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS(TELUSUR)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 28-07-2017