Jangan Lupakan Veteran

Wanda Indana - 11 Agustus 2017 23:19 wib
Sejumlah veteran pejuang kemerdekaan mengikuti pawai di Jakarta. (ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)
Sejumlah veteran pejuang kemerdekaan mengikuti pawai di Jakarta. (ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tanggal 19 Mei tidak dicetak dengan tinta berwarna merah. Artinya, tidak diagendakan sebagai libur dalam memperingati suatu hal dalam sistem kalender nasional.
 
Tidak banyak yang tahu 19 Mei merupakan hari istimewa bagi Korps Cacat Veteran Republik Indonesia. Setiap tahun, organisasi yang dibentuk pemerintah sebagai penghargaan terhadap para cacat veteran ini memperingatinya untuk memperkuat semangat nasionalisme dalam sanubari masing-masing anggota.
 
KCVRI merupakan anak organisasi Legiun Veteran Republik Indonesia,himpunan yang anggotanya adalah pejuang kemerdekaan dan pembela kedaulatan Indonesia. Semula, namanya adalah Ikatan Invaliden Indonesia, didirikan pada 18 Mei 1950. Baru pada kongres tahun 1959 namanya diubah menjadi Korps Cacat Veteran Republik Indonesia.
 
Presiden ke-1 RI Soekarno pernah berkata, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Jadi tak usah heran, bangsa Amerika dan Rusia kini menjadi bangsa yang besar. Boleh jadi karena mereka menghormati jasa para pahlawannya.
 
Ada peringatan veteran's day di AS yang dikhususkan untuk mengenang jasa para pejuang veteran. Veteran's day dirayakan pada senin kedua November. Pemerintah Amerika Serikat meliburkan segala kegiatan di hari itu.
 
Pada hari perayaan itu, para veteran AS diarak menggunakan mobil atau kereta kuda dengan disambut sorak-sorai masyarakat. Masyarakat mengucapkan terima kasih sebagai bentuk penghormatan.
 
Hal serupa juga ada di Rusia. Bahkan, di Rusia empat hari sebelum perayaan Hari Kemenangan kegiatan di sekolah dan di kantor diliburkan. Pada hari Hari Kemenangan, veteran-veteran  dari negara eks-federasi diarak dalam sebuah pawai yang sangat megah.
 
Terabaikan
 
Soepranoto merupakan sosok salah satu pejuang kemerdekaan yang masih hidup. Saat kami menemuinya beberapa waktu lalu di Jakarta, umurnya sudah 93 tahun.
 
Ia dulu Tentara Keamanan Rakyat yang ikut bergerilya melawan agresi militer Belanda pertama dan kedua (1945-1949). Pengorbanannya mempertahankan kemerdekaan RI yang diproklamasikan Soekarno-Hatta selama periode itu tak pernah ia sesali.
 
Ia rela berjuang demi nasib bangsa Indonesia yang lebih baik, lepas dari penjajahan, meski akhirnya menanggung cacat. Tangan kanannya jadi tidak bisa difungsikan lagi setelah ditembak musuh yang menyerang posnya di Desa Guyangan, Nganjuk, Jawa Timur pada tahun 1949.
 
Semua itu ia ikhlaskan untuk negara, untuk masa depan generasi penerus bangsa Indonesia.
 
“Zaman dulu hidup rakyat susah, tak seperti sekarang. Makan seadanya, nasi susah didapat, padahal di tanah bangsa sendiri. Karena itu kita harus merdeka, ” ujar Soepranoto kepada Metrotvnews.com  saat berbincang di rumahnya, Jalan Tambak, Manggarai, Jakarta Pusat, Senin 31 Juli 2017.
 
Baca: Berkorban Demi Kedaulatan Negara
 
Soepranoto berharap keberadaan veteran jangan sampai dilupakan. Ia tak jarang menjadi prihatin melihat kenyataan sekarang, antara lain soal pemberitaan dalam negeri yang tak pernah sepi dari isu korupsi. Bahkan fenomena kegaduhan antar anak bangsa yang saling hujat. Hinga aksi pejabat yang jegal menjegal dan sikut sana-sini hanya demi kepentingan untuk mengejar ambisi politik.
 
Menurut Soepranoto, setelah Presiden RI ke-2 Soerhato lengser kaum veteran seperti tercampakkan. Eksistensinya seakan terabaikan. “Kami seperti orang yang dibuang, dianggap seperti benalu, ” ucapnya.
 
Meski usianya telah tergolong sangat sepuh, Soepranoto mengaku masih suka mengikuti perkembangan informasi dan kabar melalui media. Tapi, ini yang paling membuatnya sedih, banyak kasus pelecehan Pancasila yang dilakukan generasi muda.
 
Ia menilai, generasi muda sekarang mulai melupakan pentingnya mempertahankan Pancasila. Sebagai dasar negara, Pancasila menjadi pengikat bagi keragaman bangsa Indonesia. Ada ribuan suku, termasuk ribuan bahasa daerah di dalamnya, sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia, tersebar di seluruh pelosok daerah yang terbentang mulai dari Sabang sampai Merauke.
 
“Generasi sekarang tidak perlu perang. Cukup mengisi kemerdekaan dengan pembangunan saja,” katanya.

Tak hanya itu, dia juga heran dengan fakta tentang tak sedikit orang Indonesia yang bergabung ke kelompok pemberontak di negara lain. Seperti kelompok yang ingin mendirikan negara Islam di wilayah Suriah dan Iraq (Islamic State of Iraq and Syria/ISIS). Padahal, bangsa Indonesia sendiri masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Utamanya, soal kesejahteraaan.
 
Soepranoto menyebut WNI yang bergabung bersama ISIS sudah melakukan kekeliruan besar. Seharusnya, mereka berpikir untuk membangun bangsanya sendiri. Bukan terlibat ke dalam masalah bangsa lain. Mengisi kemerdekaan dengan ikut berpartisispasi dalam pembangunan dan mendukung pemerintahan dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat juga layak disebut perjuangan.
 
“Jangan campuri masalah bangsa lain. Kita tidak ada sangkut pautnya dengan mereka (ISIS). Harusnya bangsa sendiri dibangun,” ujar Ketua Umum Korps Cacat Veteran Republik Indonesia (KCVRI) ini.


FOTO: Soepranoto (MTVN/Wanda Indana
)
 
Prihatin
 
Soepranoto pun mencermati, generasi saat ini gampang terpecah-belah jika ada perbedaan pandangan politik tertentu. Juga cenderung bersikap intoleran.
 
Hal ini, kata dia, terjadi karena melunturnya semangat kebangsaan Indonesia sebagaimana semboyan bhineka tunggal ika serta kurangnya penghayatan ideologi Pancasila.
 
Ia menuturkan, pada era perebutan kemerdekaan, semua pemuda bersatu melawan bangsa penjajah. Dia mencontohkan, para pemuda di Surabaya dulu bergabung bersama TKR berjuang melawan Belanda di seluruh wilayah Jawa Timur. Begitu pula dengan pemuda di daerah lain. Meski terpisah ratusan kilometer dari lautan, semangat pemuda saat itu sama-sama punya satu tujuan, yaitu membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan.
 
“Waktu itu, semua pemuda dari berbagai daerah bersatu, melawan penjajahan di daerah masing-masing,” terang Soepranoto.
 
Linglung
 
Kisah lain disampaikan Samalah (77), janda pejuang veteran. Ia harus rela kehilangan suaminya yang gugur dalam pertempuran di Timor Timur. Pada 1977, suaminya yang berasal dari satuan Marinir Angkatan Laut itu mendapat tugas untuk membantu memperkuat pasukan tentara Indonesia di Timor Timur.
 
Selang sebulan setelah penugasan suaminya, Samalah tiba-tiba didatangi tamu yang datang dengan tiga tiga mobil ke rumahnya. Termasuk di dalam rombongan itu adalah pasukan satu kompi, istri komandan kompi, tim dokter, serta ustaz.
 
Firasat Samalah sudah tak enak. Dia berfikir sesuatu telah terjadi pada suaminya.
 
“Suami pernah bilang, kalau ada yang ramai-ramai di rumah, berarti ada pasukan yang kecelakaan atau gugur,” ujar Samalah saat ditemui Metrotvnews.com di Bekasi, Jawa Barat, Jumat 4 Agustus 2017.
 
Ternyata benar. Istri komandan kompi memberi tahu Samalah bahwa suaminya hilang dan dinyatakan gugur. Samalah sontak menangis. Kelima anaknya yang ada di hadapannya hanya bisa menatap Samalah yang histeris meratapi kesedihannya. Sudah suami gugur, jasadnya pun tak kembali. Hingga kini ia tak tahu di mana jenazah suaminya, di mana kuburnya.
 
“Saya langsung berfikir lima anak saya yang masih kecil-kecil. Masa depannya bagaimana, sementara saya tidak bekerja,” ujar dia.
 
Tiga tahun setelah itu, Samalah mendapat tawaran dari komandan untuk menitipkan empat orang anaknya ke suatu panti asuhan yang dikelola Yayasan Dharmais. Upaya itu untuk mengurangi beban ekonomi. Biaya hidup dan sekolah ditanggung yayasan.
 
“Suami ngga ada, anak juga dibawa ke panti, saya suka linglung waktu itu. Tapi harus sabar, mungkin ini yang terbaik dari Allah, jalani saja,” ujarnya.
 
Anak-anak Samalah akhirnya dapat menempuh pendidikan hingga ke tingkat menengah atas. Tak hanya itu, anak-anak Samalah juga mendapat beasiswa Trikora untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
 
“Alhamdulillah anak saya berhasil semua. Pemerintah dulu sangat membantu keluarga pejuang,” kata Samalah.
 
Di sisi lain, Samalah tak mau bergantung pada tunjangan pensiun yang jumlah kecil. Samalah mengajukan diri untuk bekerja di Kantor Kecamatan Bekasi. Dia diterima menjadi juru ketik. Dia bertugas mengurus pembuatan surat-surat.
 
“Saya dengar waktu itu ada pemekaran. Saya bilang mau bantu-bantu, saya bisa mengetik tapi tidak bisa ketik sepuluh jari,” tutur dia terkekeh.
 

FOTO: Samalah (MTVN/Wanda Indana
)



Nasib serupa juga dialami Salimah (72) yang juga janda veteran.  Suaminya turut berjuang pada operasi Seroja di Timor Timur.
 
Suatu malam pada 1976, suami Salimah yang tengah berjaga malam bersama rekan-rekan jawatan mendadak mendapat tugas ke Timor Timur. Malam  itu pula, Suaminya harus berangkat meninggalkan keluarga.
 
“Saya sudah sering ditinggal tugas. Tapi malam itu, saya menangis sempat mencegah. Tapi suami berusaha menenangkan,” ujar Salimah.
 
Sebelum berangkat, suaminya berpesan untuk menjaga ketiga anak mereka. Sementara itu, Salimah masih belum berhenti menangis.
 
Tiga hari setelah keberangkatan, Salimah kedatangan tamu rombongan yang meliputi istri komandan kompi, tim dokter, dan ustaz. Salimah sudah menduga, sesuatu terjadi pada suaminya.
 
Ia langsung menangis didatangi rombongan tamu itu di rumahnya. Ketika istri komando kompi memberitahu bahwa suaminya gugur dalam peperangan, Salimah pun jatuh pingsan.
 
Setelah siuman, para tetangga sudah ramai mengelilinginya. Ia mendapat simpati dari para tetangga, mereka menasihati Salimah agar tabah.
 
Kehilangan suami membuat Salimah tak semangat menjalani hidup. Ia sempat mengalami masa kesedihan berbulan-bulan, tak bisa menerima kenyataan.
 
“Mau ngapa-ngapain rasanya nggak semangat. Tidak nafsu makan selama tiga bulan,” ujarnya.

Lambat laun, Salimah menyadari larut dalam kesedihan seperti ini bukan kehidupan yang dikehendakinya. Perlahan ia mengumpulkan semangatnya kembali. Ia ingat, ketiga anaknya membutuhkannya.  Ia harus membesarkan mereka. Tekadnya, anak-anaknya bernasib lebih baik.
 
Berbekal bakatnya menjahit, Salimah membuka usaha kecil-kecilan. Meski tak banyak, penghasilan dari siapapun yang memanfaatkan jasanya dari menjahit itu sangat membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ia seperti pekerja keras, rela begadang semalaman menyelesaikan pesanan jahitan demi untuk mendapat tambahan uang.
 
“Dulu masih muda, masih tahan menjahit sampai larut malam, terkadang bisa sampai pagi. Sampai akhirnya anak-anak saya sekolah dan bekerja. Kehidupan kami lumayan, tidak sampai mengemis di jalanan,” ungkap Salimah.
 

FOTO: Salimah (MTVN/Wanda Indana
)

Harapan
 
Kendati demikian, Salimah tetap bangga menjadi istri seorang pejuang veteran. Dia bangga, suaminya gugur demi membela kemerdekaan negara. Hanya saja, ia mengakui kaum veteran saat ini seperti terlupakan oleh negara.
 
“Saya hidup karena kerja keras. Kalau mengharapkan tunjangan pensiun dari negara tidak akan pernah cukup,” ujarnya.
 
Salimah berharap, pemerintah dapat memberi perhatian lebih kepada keluarga veteran. Bagaimanapun juga, pejuang veteran memiliki jasa pada negara. “Negara saja lupa, bagaiamana generasi sekarang. Anak-anak sekarang kalau ditanya Seroja pada tidak tahu,” pungkas Salimah menutup perbincangan.
 
Salimah kini tinggal di Komplek Seroja bersama dengan 423 orang yang bernasib sama. Korban-korban perang Seroja dikumpulkan dan diberi rumah di komplek perumahan Seroja pada masa pemerintahan Soeharto.

Belakangan, menurut Salimah, sebagian keluarga menjual rumah pemberian negara karena masalah ekonomi. Mereka yang keluar dari komplek Seroja justru menjalani hidup lebih sulit.
 


(ADM)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG VETERAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS(TELUSUR)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 21-08-2017