DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.052.810.215 (14 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Tokoh Intelijen Pendiri PKS Angkat Bicara

M Rodhi Aulia - 07 November 2018 15:57 wib
Tokoh intelijen/pendiri Partai Keadilan, Suripto. (Medcom/M Rodhi Aulia)
Tokoh intelijen/pendiri Partai Keadilan, Suripto. (Medcom/M Rodhi Aulia)

DALAM serial 'Balada Fahri Hamzah' di Medcom Files pada Januari 2018, Fahri menduga, sejak penghujung 2015 sudah ada upaya dari elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk melengserkan dirinya dari kursi Wakil Ketua DPR RI.

Tak hanya Fahri. Sebelumnya, mantan Presiden PKS Anis Matta juga dikucilkan. Dia tidak ditempatkan di posisi strategis dalam kepengurusan baru DPP PKS. Anis dan Fahri dianggap satu gerbong dan perlu disingkirkan.

Fahri berasumsi, “Jelas, ini adalah operasi (intelijen).” Namun dia enggan menyebut pihak yang melakukan operasi tersebut.

Tak lama, pada 25 Maret 2018, beredar dokumen setebal 27 halaman berjudul ‘Mewaspadai Gerakan Mengkudeta PKS' di kalangan petinggi PKS. Disebutkan, Anis, Fahri dan para pengikutnya ingin menggulingkan elite PKS pimpinan Sohibul Iman dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri, serta para loyalis partai lainnya.

Dalam dokumen itu kelompok Anis Matta dijuluki 'Orang Sana' alias Osan. Dipaparkan, salah satu cara Osan merebut kekuasaan adalah menguasai keanggotaan majelis syuro.

Osan dianggap berbahaya dan memiliki sumber pendanaan yang kuat, di antaranya dari taipan '9 Naga' -- kelompok yang kerap dikaitkan dengan konglomerat keturunan Tionghoa. Fahri sendiri disebut sebagai salah satu pentolan Osan.

Untuk menangkalnya, strategi yang diambil loyalis partai alias 'Orang Sini' (Osin) adalah menggagalkan pencalonan Anis Matta sebagai presiden pada 2019 dari PKS. Fahri dan loyalis Anis lainnya pun terus dikucilkan.

Merespon karut-marut ini, pada April 2018 Fahri kembali bersuara. “Itu file operasi intelijen,” katanya.



Fahri Hamzah (kiri), Alm. Taufik Ridlo (tengah), dan mantan Presiden PKS Anis Matta. (ANTARA)


Senada, kader PKS lainnya yang disebut-sebut sebagai loyalis Anis Matta, Mahfudz Siddiq, blak-blakan saat diwawancarai sebuah media massa pada Juli 2018. Mahfudz sendiri tidak lagi tercatat sebagai caleg PKS, padahal dia tidak pernah menyatakan mundur.

Dia menduga, alasan pembersihan kelompok Anis Matta karena semangat pembaharuan yang diinisiasi oleh mantan Presiden PKS itu. Modernisasi yang ditawarkan adalah menjadikan PKS sebagai partai terbuka, tidak eksklusif. Dari situ Anis Matta dituduh menjalankan agenda terselubung dari luar PKS.

Mahfudz menuding langkah pembersihan Anis dan loyalisnya dilakukan oleh elite DPP PKS lewat unit intelijen PKS yang dikembangkan Suripto, tokoh intelijen pendiri Partai Keadilan (nama sebelum PKS).

"Ustaz Hilmi Aminuddin (Ketua Majelis Syuro PKS sebelum Salim Segaf Al-Jufri) memang memperkuat unit intelijen (di PKS) yang dibuat oleh Pak Suripto," kata Mahfudz. "Kebetulan saya tujuh tahun di Komisi I, mitranya orang BIN (Badan Intelijen Negara), jadi paham."

Memang, sejak 1983, hubungan mantan pejabat Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) itu dengan Hilmi Aminuddin sangat karib. Suripto meneladani sang ustaz, dan keduanya bersama-sama menumbuhkan kelompok kajian Islam Jamaah Tarbiyah. Polanya eksklusif, cenderung sembunyi-sembunyi.

Pada masa orde baru, saat Suripto menjabat Ketua Tim Penanganan Masalah Khusus Pendidikan Tinggi/Depdikbud (1986-2000), dia turut membidani Jamaah Tarbiyah di kampus-kampus. Kelompok inilah yang menjadi akar terbentuknya Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Bahkan, saat kalangan Tarbiyah memutuskan untuk mendirikan partai politik berlabel Partai Keadilan, tokoh KAMMI Fahri Hamzah terlibat sebagai deklarator.

Dari sinilah muncul pertanyaan, mengapa kini Suripto dituduh mendalangi operasi pembersihan PKS dari kelompok Anis Matta, Fahri Hamzah dan loyalisnya yang rata-rata berlatar KAMMI? Padahal, boleh dikata, Suripto dan Hilmi yang 'membesarkan' Fahri Hamzah cs.

Belakangan, setelah disingkirkan dari partai, Anis Matta membangun ormas Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi). Seiring itu, tersiar kabar sejumlah kader PKS mulai meninggalkan partai.

Lantas, apa kata Suripto? Medcom Files pun menyambangi kediaman sang 'intel tiga zaman' di Jakarta Selatan, Rabu, 17 Oktober 2018. Berikut kutipan bincang-bincang kami;



Suripto. (ANTARA)


Bagaimana ceritanya Pak Suripto bisa karib dengan Ustaz Hilmi Aminuddin, hingga bersama-sama menumbuhkan kelompok Tarbiyah?
Sekitar tahun 1983 di sebuah pengajian, saya bertemu beliau. Saya lihat ustaznya lain. Agak lain itu buat saya, semua norma dan kaidah Islam, ia coba terjemahkan dengan kondisi sekarang. Kontekstual bukan tekstual. Dalam arti pada ayat yang lainnya dan juga situasi yang hidup kekinian. Itu kelebihannya. Saya kagum dengan beliau. Bagaimanapun beliau adalah orang yang saya teladani sampai ini hari.

Dakwah yang dibangun oleh Ustaz Hilmi dan kawan-kawan itu polanya Tarbiyah. Pendalaman dan kajian pengetahuan Islam, bersumber Alquran dan Hadis. Itu tidak bukan pengajian yang bentuknya majelis, yang sangat terbuka seperti majelis taklim. Ini (Tarbiyah) lebih kepada kelompok-kelompok yang lebih serius dan pembahasannya lebih mendalam. Awal mulanya di Jakarta, kelompok dari rumah ke rumah.

Benarkah kelompok ini mengiblat ke organisasi transnasional Ikhwanul Muslimin (IM)?
Ya, sebetulnya referensi itu banyak dikutip dari ajaran-ajaran Hasan Al Banna. Tapi tidak berarti bahwa ini suatu gerakan (IM) total yang terukur dan terstruktur. Jadi masih kelompok Tarbiyah.

Apakah Jamaah Tarbiyah ini memang diarahkan untuk menjadi sebuah partai politik, seperti saat bermetamorfosa menjadi Partai Keadilan (PK) pada 1998?
Ini yang ingin saya sampaikan kepada Anda. Saya sebetulnya tidak setuju kader-kader tarbiyah ini membangun suatu partai baru, yang semua tenaga atau kadernya itu muncul semua. Waktu itu saya mengusulkan sepertiga saja. Dua pertiga lain tetap melakukan kegiatan dakwah di masyarakat. Ternyata hampir semuanya ikut muncul.

Menurut saya lebih baik menekankan kepada tarbiyah kultural daripada partai politik. Karena di masa peralihan itu (reformasi) tidak ada jaminan bahwa suatu gerakan apalagi gerakan tarbiyah ini tidak dicurigai atau diterima oleh masyarakat politik yang baru tumbuh. Lebih baik toh, jadi kalau ada apa-apa yang habis sepertiganya, dan dua pertiga lainnya masih selamat. Itu saja.



Hilmi Aminuddin. (MI)


Tapi, Bapak sempat jadi anggota majelis pertimbangan partai dan dewan pakar PKS. Kecewa, tapi ikut struktur juga?
Itulah konsekuensinya, karena ide saya tidak diterima. Buktinya saya jadi Sekjen Dephutbun (Departemen Kehutanan dan Perkebunan era Menhut Nurmahmudi Ismail - Presiden PK), artinya, mestinya saya tidak perlu nongol dong (di partai). Dengan duduk di situ kan masih ditarik-tarik kaitannya dengan PK, kelompok ini, itu, dan lain-lain. 

Pada akhirnya jadi Anggota DPR RI dari PKS periode 2004-2009. Tapi, setelah itu tampak tidak banyak terlibat di PKS. Sengaja menjaga jarak dari partai?
Iya, satu periode saja (menjadi anggota DPR RI). Saya kan lebih banyak tugas di KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina). Energi saya lebih banyak dicurahkan di situ.

Tapi mereka (partai) juga ingin dwifungsi. Di samping kultural juga struktural. Ini saya masih ditaruh juga di Majelis Pertimbangan Partai (MPP). Sekarang lagi coba dipisahkan itu (kultural dan struktural). Misalnya sekarang, saya sudah tidak di MPP sama sekali. Kini betul-betul kultural. Tidak terlibat langsung lagi di partai.

Belakangan muncul faksi-faksi di PKS, sampai sekarang. Ada faksi keadilan, ada sejahtera. Apa pendapat Pak Suripto?
Ya, itu cap dari orang luar, bukan dari PKS. Ini yang sudah sejahtera, dan ini yang masih melarat.

Sejak 2015, terjadi gelombang pemecatan oleh DPP kubu Salim Segaf Al-Jufri dan Sohibul Iman. Bapak melihatnya seperti apa?
Begini, kita semua ini, kami dibaiat. Itu kalau tentara disumpah. Kalau disumpah mesti taat kepada bunyi-bunyi sumpah itu. Sumpah prajurit, setia kepada negara, dan lain-lain. Kita juga sama, dibaiat. Harus setia kepada pimpinan. Ini kayak saya, ditempatkan di mana saja mesti laksanakan.

Dalam konteks ini ada gejala dan fenomena bahwa kader-kader PKS ini lupa sama isi apa yang dibaiat. Banyak yang tidak taat kepada pimpinan. Kalau tidak taat atau tidak setuju kepada pimpinan ada forumnya. Itu yang disebut forum majelis syuro. Di situ, digantilah kalau pimpinannya tidak beres. Misalnya tahun 2020 ada pemilihan pimpinan majelis syuro yang baru. Pada waktu itulah pilih, ada mekanismenya, ada AD/ART-nya (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah tangga).

Nah, ini model kayak Fahri Hamzah kelihatannya tidak taat sama ini. Bukan kelihatannya, tapi memang kenyataan. Tentu dipecat dong. Dan, banyak hal lagi yang lain, yang model-model ini. Banyak nama-nama tapi saya tidak ingin sebutkan. Sekarang ditertibkan oleh pimpinan. Ditertibkan melalui lembaga BPDO (Badan Penegak Disiplin Organisasi) atau melalui kebijakan mutasi dan segala macam.



Presiden PKS Sohibul Iman (kedua kanan) bersama Ketua Majelis Syuro Salim Segaf Al Jufri (kedua kiri), Wakil Ketua Majelis Syuro Hidayat Nur Wahid (kanan), dan anggota Majelis Pertimbangan Partai (MPP) Tifatul Sembiring (kiri). (ANTARA)


Tapi tidak sedikit yang mengikuti jalannya Fahri Hamzah cs. Bahkan, sekarang muncul ormas baru yang namanya Garbi (Gerakan Arah Baru Indonesia), diinisiasi mantan Presiden PKS Anis Matta?
Iya boleh saja, hak mereka. Asal jangan menggerogoti kader-kader yang ada. Kalau menggerogoti, ini tidak beres. Ini gejala yang tidak sehat. Boleh saja bikin ormas. Kalau menggerogoti dengan menyadarkan, tidak masalah. Tapi jangan menjelek-jelekkan yang lain, itu tidak baik.

Menggerogoti itu pengertiannya negatif. Tapi kalau dengan penyadaran, oh ini kita bikin baru, terserah mau pilih. Tapi kalau dengan jalan yang ini baik, yang ini jelek, yang jeleknya dikeluarin, dan yang jeleknya itu lebih banyak soal mencari-cari kesalahan atau kejelekkan sampai kepada personal, yang ini tidak baik. Urusan rumah tangga di dalam keluarga diungkapkan ke luar, ini yang saya sesalkan.

Bagaimana langkah antisipasinya?
Ya harus kita tertibkan. Kita sekarang sudah punya cukup bukti bahwa ini suatu gerakan yang ingin merongrong dan yang ingin memakan, yang mungkin menghancurkan tubuh partai. Tinggal pertanyaannya, apakah ini ada sponsorship (dukungan) dari luar? Itu terserah, coba kamu cari.

Sebagai tokoh intelijen, melihatnya seperti apa? Sempat dengar ada sponsor?
Saya belum bisa mengambil kesimpulan. Ya coba dicari saja. Saya sendiri hanya baru membuat aksioma.

Banyak orang menganggap saya pakar intelijen. Tapi kalau saya ngomong harus ada indikasinya. Kalau indikasinya tidak ada, belum punya fenomena, belum juga punya informasi. Tiga hal itu (penting) buat saya. 

Tapi bapak mencurigai?
Tadi itu aksioma. Bukan saya ngeles terus. Pasti anda bilang saya ngeles terus. Mungkin saya subyektif karena sudah apriori, jadi tidak objektif lagi. Anda saja cari informasinya.



Politisi PKS yang juga Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah memberikan arahan saat deklarasi Ormas Garbi di Banda Aceh, Kamis, 1 November 2018. (ANTARA)


Awal tahun 2018 beredar dokumen terkait dugaan kudeta di PKS. Ada istilah Osan-Osin. Ada tudingan bahwa dokumen itu salah satu produk operasi intelijen Bapak di internal PKS. Apa respon Bapak?
Kalau mengikuti itu terus, kita bisa capek. Akhirnya kita tidak bisa kerja, tidak fokus terhadap pekerjaan utama kita. Makanya saya jarang baca-baca seperti itu. 

Sekarang begini, kalau saya intel yang disusupkan, secara akal sehat saja, memangnya saya menaruhkan jiwa dan raga saya disusupkan untuk mengerjakan hal-hal yang risikonya tinggi. Dalam sejarah intelijen, tidak ada orang yang disusupkan itu sampai mengerjakan pekerjaan orang lain, bukan tugas sponsorship. Tapi mengerjakan pekerjaan dari tempat yang disusupkan. Sampai waktu puluhan tahun. Silakan dipikirkan sendiri secara akal sehat.

Apakah latar belakang bapak sebagai intelijen menjadi beban tersendiri, dituding menjalankan operasi terselubung untuk agenda tertentu?
Kalau ada pertanyaan-pertanyaan begini, saya bilang saya no comment. Kalau saya menjawab, pasti saya ingin memuji-muji; saya paling baik, saya mencari advokasi. Tapi tanya dong ke user saya. User saya itu Ustaz Hilmi. Sekarang dengan buku (Gagasan dan Pemikiran Suripto, Tokoh Intel Tiga Zaman) itu keluar, ada keteranagan ustaz Hilmi begitu, saya kira sudah clear, saya kerja buat siapa. Kira-kira begitulah.



Suripto. (Medcom/M Rodhi Aulia)


Apakah pergantian Ketua Majelis Syuro PKS dari Hilmi Aminuddin ke Salim Segaf Al-Jufri pada 2015 normal atau skenario?
Begini, ketika majelis syuro sidang, itu suara yang terbanyak adalah Dr. Salim, nomor 2 adalah Ustaz Hilmi, yang ketiga adalah Hidayat Nur Wahid. Lantas bertiga itu mereka berunding untuk menyepakati voting atau konsensus. Ujungnya ada syarat Ustaz Hilmi, kalau toh dia terpilih inginnya aklamasi. Karena sekarang enggak, saya serahkan ke suara terbanyak, Dr. Salim. Kita ikut membantu. Jadi begitu latar belakangnya.

Ustaz Hilmi legawa. Hubungannya dengan Dr. Salim sampai ini hari masih baik.

Saat ini, bagaimana hubungan bapak dengan Salim Segaf Al-Jufri?
Baik. Saya dulu sebelum ke Ustaz Hilmi, saya ketemu Dr. Salim dalam satu tempat pengajian, istilah kita usrah. Saya ketemu dia, Abdullah Barmus, ya ada enam orang termasuk saya. Yang mengisi saya namanya Ustaz Syauqi.

Apa masih berkomunikasi dengan Fahri Hamzah dan Anis Matta?
Saya tidak pernah hubungan. Paling-paling saya ketemu Fahri Hamzah waktu (kasus) Ratna Sarumpaet, itu saja. Saat ketemu biasa saja, salaman. 

Sejak kapan tidak menjalin komunikasi secara intens dengan Fahri Hamzah dkk?
Pertama, karena saya lebih banyak mengurusi KNRP. Kedua, dia sibuk di DPR. Bagaimana saya bisa ketemu. Dia kan sibuk di DPR. Dia sibuk sekali.

Menanggapi fenomena munculnya ormas Garbi dan keluarnya sejumlah kader PKS, selain menertibkan kader, adakah cara lain agar tidak menular?
Penertiban dilakukan. Kita punya evaluasi sendiri. Ada yang bisa lewat pendekatan, ada yang sama sekali tidak bisa. Kalau sama sekali tidak bisa didekati, ya sudah kita tinggalkan saja. Kalau yang masih bisa, kita sadarkan. Penyimpangan struktur, kasarnya dalam konteks ideologi, mesti dikoreksi dasar perjuangannya.

Akhir-akhir ini hanya Ustaz Hilmi yang sering bertemu dengan Anda, apakah membahas soal karut-marut partai?
Ya tidak usah dibahas lagi, sudah tau sama tau. Ustaz Hilmi sudah tau, Dr. Salim sudah tau, saya sudah tau, ngapain lagi dibahas.

Jadi, sekali lagi, Anda membantah bila ada tuduhan melakukan operasi intelijen di tubuh PKS?  
Yang menuduh, mereka tidak mengerti istilah intelijen. Apa yang dimaksud dengan intelijen, apa itu operasi intelijen. Dan, status intel tidak menjadi beban buat saya. Semua saya jalani. Ibarat mendayung perahu, ikuti saja arusnya.




 


(COK)

ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS(TELUSUR)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 21-11-2018