Aktivis 98, Berbagi Lapak Berbagi Peran

M Rodhi Aulia - 30 April 2018 10:06 wib
Ilustrasi: Medcom
Ilustrasi: Medcom

Tahun Politik tiba, Pilpres di depan mata. Sejumlah mantan aktivis 98 kasak-kusuk mendekat ke bakal calon presiden (capres). Sekadar mencari cantelan kesejahteraan, pula menggapai lingkar kekuasaan.


DARI pintu masuk, tiba-tiba terdengar sapaan dari seseorang yang belakangan disebut salah satu mantan aktivis 98. "Izin perintah komandan," kata dia kepada Dondi Rivaldi di Kedai Kopi Politik (Kopol), Jalan Pakubuwono VI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin 16 April 2018.

"Itu pendukung Jokowi (bakal Calon Presiden RI 2019)," kata Dondi tanpa menyebutkan nama rekannya tersebut.

Kebetulan Dondi sedang duduk di sebuah sofa dekat pintu masuk kafe. Lukisan Che Guevara dan Soekarno di sisi kanan-kiri bagian depan kafe, menjadi saksi bisu sapaan rekannya tadi.

Dondi termasuk mantan aktivis 98. Diakuinya, dia dan sejumlah mantan aktivis 98 lainnya sering menghabiskan waktu di Kopol.

Kafe itu kini menjadi salah satu tempat kongko-kongko mantan aktivis 98. Terutama yang dahulu tergabung di dalam Forum Kota (Forkot) dan Front Aksi Mahasiswa untu Reformasi dan Demokrasi (Famred).

"Di Kopol ini tongkrongan aktivis dari berbagai jenis. Yang pro Jokowi (Joko Widodo) juga nongkrong di sini. Yang pro Prabowo (bakal Capres dari Gerindra, Prabowo Subianto) pun nongkrong di sini," kata dia.

Tentu para aktivis itu, kata dia, berangkat dari gerakan reformasi 1998 - penggulingan orde baru dan Presiden RI kedua Soeharto pada Mei 1998, dan sesudahnya.

Perbedaan pilihan politik yang ditempuh, tidak menjadi penghambat silaturahmi. Mereka tidak mendebatkan pilihan politik yang telah dipilih masing-masing individu.

"Kita sama teman bicara situasi nasional. Dukungan politik silakan. Kita masing-masing," ucap Ketua Front Eksponen 98 ini.

Nama Dondi, kini melejit pasca mendeklarasikan kelompok relawan dalam rangka persiapan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di sebuah restoran di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat 6 April 2018. 

Ia menjagokan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dengan nama kelompok relawan Presidium Gatot Nurmantyo untuk Rakyat (GNR).

Malam itu, saat kami berbincang, tampak elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyambangi Kopol. Adalah Nasir Djamil, Anggota DPR asal Aceh, yang datang seorang diri menemui GNR sekitar pukul 20.00 WIB.

Dengan senyumnya yang khas, Nasir menyalami sejumlah orang dan langsung duduk di bagian dalam Kopol. Ia kemudian terlibat perbincangan dengan petinggi GNR yang belakangan diketahui terkait penjajakan PKS mendukung pencalonan Gatot di Pilpres 2019.



Dondi Rivaldi. (Medcom/Aul)


Di tempat berbeda, kami pun menemui aktivis Pena 98 Aznil Tan. Hal senada diungkapkannya.

Aznil mengaku dirinya juga Pena 98 merupakan pendukung Presiden RI Jokowi. Bahkan dia rela disebut die hard Jokowi alias pendukung fanatik.

"Jokowi 24 karat," ucap Aznil kepada Medcom Files di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Rabu 18 April 2018.

Namun label itu tidak menghalangi dirinya bersama sejumlah teman menghabiskan beberapa malam di Kopol.

Bahkan, dirinya pernah bulak-balik ke Kopol, tiga malam berturut-turut mengadakan rapat di lantai dua kafe tersebut. Dari sana, Aznil membentuk organisasi bernama Merdeka 100 persen (Derap). 

"Paten juga ini tempatnya," kata Alumni Universitas Mercu Buana itu.

Sesama mantan aktivis 98 diyakini masih solid. Mereka tidak bertikai hanya karena berbeda pandangan politik.

Perbedaan pandangan politik itu juga kerap di anggap sebagai permainan peran. "Anggap ini berbagi peran," kata Aznil.

Baginya, dengan berbagi peran, elite politik di era reformasi ini bisa dikawal oleh mantan aktivis 98. Lebih jauh, diharapkan para mantan aktivis ini bisa masuk ke lingkar kekuasaan, dan itu dianggap lebih baik lagi.

Meski begitu, tidak menutup mata, ada pula yang orientasinya berbagi lapak. Ya, mencari secercah ongkos politik yang merembes ke arus bawah dari para bakal calon presiden.



Aznil Tan. (Medcom/Aul)


Menyebar

Mantan Aktivis 98 lainnya, Sayed Junaidi Rizaldi, mengatakan, para mantan aktivis 98 juga banyak tersebar di sejumlah partai politik.

Di antaranya di Golkar, Gerindra, PDIP dan Hanura. Dia sendiri kini merupakan salah satu Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Hanura.

Letupan atau gesekan sesama mantan aktivis, kata pria yang akrab disapa Pak Cik ini, tentu ada. Namun gesekan itu tidak melebar ke mana-mana.

Begitupun sejumlah Ormas yang didirikan mantan aktivis 98. Seperti halnya Derap, Rumah Gerakan 98, Pena 98, Eksponen 98, Pospera dan lain-lain.

"Cita-cita kita pada dasarnya sama buat bangsa dan negara. Cuma cara pandangnya yang berbeda. Itu saja persoalannya," kata Pak Cik saat kami temui di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. 

Lagi pula, lanjutnya, di antara mantan aktivis 98 sendiri masih saling berkomunikasi. Bahkan masih sering bertemu di berbagai tempat dan kesempatan.

Alumnus UPN Veteran Jakarta ini sempat menunjukkan sejumlah grup WhatsApp. Tempat di mana mereka saling berkomunikasi ketika tidak bersua satu sama lain.

"Ibarat tali kalau bikin satu simpul, orang bukanya gampang. Kalau banyak simpulnya, kan susah," kata dia.



Sayed Junaidi Rizaldi. (Medcom/Aul)


Pragmatis

Dari sekian banyak mantan Aktivis 98, banyak di antara mereka yang sukses. Baik di dunia usaha maupun dunia politik.

Namun diakui juga, bahwa ada yang belum beruntung. Dari sini muncul dugaan para mantan aktivis ini terjebak pragmatisme. Di antaranya dengan turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi.

Demonstrasi dan menyuarakan kebenaran memang menjadi kecenderungan yang dimiliki mantan aktivis 98. Tapi isu aksi "pesanan" kerap ada.

"Mungkin ada juga. Hobi kali," kata Pak Cik.

Pesanan yang dimaksud adalah demonstrasi dengan tuntutan yang dipesan pemilik kepentingan.

Bagi Pak Cik, demonstrasi yang benar itu tidak ada pesanan. "Tapi Kalau orang mau bantu, ya wajar."

Dana, tidak ditampik bahwa itu diperlukan dalam demonstrasi. "Kita dulu sebelum demo, ngamen keliling kampus. Cari uang. Kita telepon senior kita, minta bantu. Kan mahasiswa itu enggak kerja," katanya.

Namun, Pak Cik enggan bercerita banyak ihwal mantan aktivis 98 yang melakukan demonstrasi "pesanan".

Yang jelas, kata Pak Cik, kini banyak orang yang membawa-bawa label mantan aktivis 98, entah untuk kepentingan apa. Padahal, saat demonstrasi dulu, dirinya tidak pernah sama sekali bertemu.

"Kita bicara manusiawi. Kita enggak usah menutup mata. Enggak semua orang punya jalan samurainya. Ya kalau secara pribadi, itu pilihan hidup. Memilih jalan samurai kita mau jadi apa. Mau kita larang, kita marah, toh kita kan cuma ikatan emosional," kata Pak Cik.

Soal perbedaan pandangan politik di kalangan aktivis 98, bagi Pak Cik tidak menjadi masalah. Pilihan tidak bisa dipaksakan.

"Itu jalannya. Misal, di jalan ini mungkin mereka menemukan teman. Di jalan ini, mungkin lebih banyak harapan-harapan yang bisa terpenuhi. Itu sah-sah saja. Karena memilih," pungkasnya.
(COK)

ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS(TELUSUR)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 26-05-2018