Tak Sekadar Memburu Penonton

Lis Pratiwi - 06 Februari 2018 18:19 wib
Ilustrasi. ANTARA
Ilustrasi. ANTARA

Penonton, bagian penting dalam sebabak pertunjukan. Malahan, jumlahnya lazim dijadikan takaran berhasil tidaknya suatu pagelaran.


Jakarta: Selain dari segi angka, reaksi penonton juga menjadi unsur yang harus dipertimbangkan. Gampang saja, seberapa meriah apresiasi, pujian, dan tepuk tangan yang digaungkan.

Namun, tidak demikian dengan teater. Meski  tetap dianggap menjadi bagian penting dalam pentas, penonton tidak didaulat sebagai takaran keberhasilan.
Perkaranya, bisa jadi pertunjukan tersebut biasa saja, tetapi dengan publikasi dan promosi yang bagus, akhirnya banyak menyedot penonton untuk datang. Artinya, dapat juga sebaliknya, pertunjukan berkualitas boleh jadi sepi penonton jika digelar oleh sistem dan  manajemen yang buruk.

“Ideologi teater bukan begitu, bukan di seberapa banyak penonton. Kalau seberapa banyak penonton juga tidak menjamin kulaitas pertunjukan,” kata sutradara dan produser teater, Abdullah Wong kepada Medcom.id, Selasa, 30 Januari 2018.

Lebih lanjut, penggunaan simbol dalam teater membuatnya memiliki persepsi sebagai pertunjukan bagi kaum elite dan hanya dapat dinikmati segelintir orang. Terlebih bagi teater modern yang berubah konsep dengan membuka pertunjukan di panggung mewah dengan tiket berbayar.



Reza Rahardian sedang beradu akting dengan Chelsea Islan dalam pertunjukan teater "Bunga Penutup Abad", di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (24/8/2016). (ANTARA)


Tak jarang, guna menggaet penonton, pelakon yang dihadirkan pun berasal dari kalangan terkenal seperti artis film dan digarap sutradara kawakan. Dengan konsep ini, tentu kursi-kursi yang ditawarkan akan penuh oleh masa sang artis sendiri, meski harga tiket yang ditawarkan mencapai ratusan ribu hingga jutaan.

Teater Bunga Penutup Abad, contohnya. Lakon adaptasi novel klasik Pramoedya Ananta Toer ini ramai dibicarakan pada akhir Agustus 2016 lalu. Artis ibu kota sekelas Reza Rahadian, Chelsea Islan, Happy Salma, dan Lukman Sardi menjadi magnet yang mampu membuat tiket ludes jauh hari sebelum pagelaran dimulai.

Pementasan yang dilakukan selama tiga hari itu menawarkan harga tiket termurah Rp250 ribu dan termahal Rp650 ribu. Hal ini berbeda dengan teater tradisional dengan prinsip panggung adalah milik rakyat. Dalam seni drama ini, masyarakat tak hanya menjadi penonton, namun tak jarang terlibat langsung dalam pertunjukan.

Teater tradisional yang berkembang lebih awal di Indonesia, seperti ketoprak dan ludruk kian jarang terdengar. Namun, ada pula sutradara teater yang membuka pertunjukan di daerah bukan untuk sekadar memberi hiburan dan mendapat keuntungan finansial, melainkan keuntungan spiritual.

“Banyak di daerah termasuk saya mengadakan pertunjukan yang menonton orang setempat dan tujuannya bukan show off tapi memberi kesadaran kepada masyarakat,” tambah Abdullah Wong.



Abdullah Wong. (Istimewa)


Kalangan tertentu

Salah satu alasan masuknya pemain film, dinilai Abdullah sebagai keinginan untuk diakui sebagai orang yang pernah terlibat di teater yang cenderung menjadi wadah orang-orang ideologis. Tetapi pada akhirnya, orientasi produk tersebut lebih kepada penjualan dan menarik penonton karena butuh sponsor.

Dindon W.S., sutradara dan pencetus Teater Kubur mengatakan teater saat ini memiliki banyak segmen. Salah satunya adalah kelompok teater yang punya idealisme dan kesungguhan berkarya, ia menyebutya teater organik, salah satunya adalah Bengkel Teater yang dipimpin W.S. Rendra.
 

Berbeda dengan teater non-organik. Ia lebih mirip company atau production house yang mengekskusi pentas dengan merekrut aktor terkenal dan menyewa tempat mewah. Perjalanan instan ini membuat teater non-organik hanya bermain sesekali, tidak berlanjut.


Meski demikian, Dindon sendiri tak khawatir dengan keadaan tersebut. Baginya, demikianlah karakter teater modern Indonesia. Ia pun tak khawatir dengan persaingan antara pertunjukan teater dengan hiburan lain seperti sinetron, film, atau konser musik. Sebab, teater memiliki segmentasi peminatnya sendiri.

“Ada yang seperti itu, orientasinya produk, lebih hiburan. Tapi memang ada teater yang punya idealisme kuat sehingga bisa menoreh prestasi di wajah teater Indonesia,” jelasnya.



Teater Kubur mementaskan teaterikal "X Kilometer" karya Dindon W.S. di halaman Gelangang Planet Senen, Jakarta Pusat, Februari 2009. (MI)


Ibadah kepada masyarakat

Pertunjukan yang dilaksanakan hanya beberapa hari dalam setahun, ditambah latihan yang terus menerus dan panjang membuat banyak pemain menjadikan teater hanya sebatas hobi. Teater, dianggap belum bisa memberi kemapanan finansial dan kestabilan ekonomi bagi pemainnya.

Kendati demikian, teater tak pernah kehilangan peminat. Mereka yang puluhan tahun bergulat di dunia ini pun seolah tak pernah mengeluh akan perkembangan zaman yang bisa menjadi ancaman. Dindon W.S. salah satunya. Sutradara dan pencetus Teater Kubur ini mewajarkan pemahaman yang berbeda tentang teater.

Secara idealisme, ia mengakui sulit hidup hanya dengan mengandalkan produksi teater. Namun baginya, teater adalah sarana ibadah, memberi kesaksian kepada masyarakat, dan hal itu lebih mulia dari uang. Disiplin itulah yang membuatnya punya kemampuan multidimensional tidak hanya sebagai sutradara, tetapi juga pembicara.

“Teater it harus dilihat tidak hanya pementasan tapi kita diberi ruang untuk berbagi kepada orang lain. Saat menjadi narasumber, pemateri workshop, dan sebagainya. Dibutuhkan bangsa ini,” jelasnya.


(COK)

ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS(TELUSUR)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 19-02-2018