Ketimbang Menutup, Lebih Sulit Merehabilitasi Eks PSK

- 14 September 2017 09:31 wib
Ilustrasi. Pekerja seks komersial yang terjaring operasi pekat di Bandar Lampug. (Foto: ANTARA Tommy Saputra)
Ilustrasi. Pekerja seks komersial yang terjaring operasi pekat di Bandar Lampug. (Foto: ANTARA Tommy Saputra)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jika ditanya lebih berat mana menutup lokalisasi prostitusi dengan merehabilitasi mantan penghuni di dalamnya, Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Kementerian Sosial Sony W Manalu menjawab lebih sulit merehabilitasi.

Alasannya sederhana, menutup lokalisasi prostitusi hanya soal keberanian. Siapapun bisa menghentikan operasional lokalisasi prostitusi asal berani. Tapi tidak demikian dengan merehabilitasi mantan penghuninya.

"Bagaimanapun, para eks penghuni ini kan manusia yang layak dan harus dimuliakan. Tidak diusir begitu saja. Maka Saya sampaikan sentuhlah mereka dengan hati dan tempat paling nyaman adalah dikembalikan ke keluarganya," kata Sony, dalam Newsline, Rabu 13 September 2017.

Sering kali, kata Sony, mantan pekerja seks komersial (PSK) ketika dikembalikan ke keluarganya mendapat penolakan atau lebih dulu menolak dipulangkan. Dalam hal ini Kementerian Sosial mengambil peran merehabilitasi mereka.

Penanganan para mantan PSK dimulai dengan penempatan di panti sosial. Di sana, selama 6 bulan, mereka akan diberikan pelatihan, motivasi, trauma healing dan diakhiri dengan bantuan stimulan.

Persoalannya, kapasitas panti sosial yang sedikit kadang tak mampu menampung seluruh mantan PSK untuk dibina. Karenanya, selain di panti sosial pusat, Kemensos juga mengandalkan panti di daerah untuk ikut membantu merehabilitasi para eks penghuni lokalisasi prostitusi.

"Dalam satu panti isinya kan kelas seperti sekolah, belum lagi soal kapasitas. Makanya kita jangkau dengan kerja sama dengan LSM juga," katanya.

Sony menjelaskan, prostitusi bukan hanya terjadi di lokalisasi, tetapi banyak juga tumbuh di lokasi. Jika lokalisasi adalah wilayah yang dikhususkan untuk transaksi dan hubungan seks, maka lokasi prostitusi lebih menjurus pada salon plus atau pijat plus yang menawarkan transaksi dan hubungan seks. Atau bisa juga melalui dunia maya.

"Apakah prostitusi bisa ditutup? Ini sesuatu yang sulit dijawab oleh siapapun. Tetapi bisa, asal ada political will. Buktinya sudah banyak yang bisa menutup lokalisasi," ungkap Sony.

Menurut Sony, Kemensos juga tidak berdiam diri manakala sudah ada pihak yang mampu menutup lokalisasi prostitusi. Tugas Kemensos berikutnya adalah bagaimana membuat para PSK yang sebelumnya beraktivitas di lokalisasi prostitusi tidak kembali lagi.

Misalnya memberikan jaminan hidup selama tiga bulan. Hal ini dilakukan karena mantan PSK tidak serta merta dipulangkan. Jangan sampai, kata Dia, karena tidak ada yang bisa dimakan untuk esok hari, mereka yang sudah keluar kembali lagi.

Tak hanya jaminan hidup, Kemensos juga memberikan modal usaha dan pendampingan. Kemensos memiliki lebih dari 50 LSM yang bergerak di bidang pendampingan.

"Solusi sudah terintegrasi. Hanya persoalannya, prostitusi kan dari hulu dan hilir. Tugas Kami di hilir. Ketika terjadi lagi maka persoalannya adalah di hulu, apa? Kemiskinan, kebodohan, dan moralitas. Ketiganya ini adalah tanggung jawab kita bersama, termasuk media," jelasnya.




(MEL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PROSTITUSI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 24-09-2017