FOKUS

Diplomasi Dua Sulung

Sobih AW Adnan - 11 Agustus 2017 21:44 wib
Gibran dan AHY di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (10/8/2017)/ANTARA/Puspa Perwitasari
Gibran dan AHY di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (10/8/2017)/ANTARA/Puspa Perwitasari

Metrotvnews.com, Jakarta: Kontras memang. Jika sebelumnya, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terlibat saling kritik dengan Presiden Joko Widodo, kemarin hari, masing-masing putra sulungnya tampak akrab dan saling sanjung.

Gibran Rakabuming Raka menyambut kedatangan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Istana Kepresidenan, Jakarta. Ia sajikan gudeg dan bubur lemu, yang menurut AHY, enak, luar biasa.

Sebaliknya, Gibran mengaku sudah lama ingin jumpa AHY. Tokoh muda yang harus tampil, katanya.

Kemunculan AHY di hari ulang tahunnya, bukan tanpa tujuan. Dia bermaksud mengundang Presiden Jokowi untuk hadir dalam peluncuran The Yudhoyono Institute semalam.

Sebelum pisah, keduanya tak lupa foto bersama. Sebuah gambar saling jabat lalu menyemburat di media sosial.

Keduanya, paling tidak telah memberi makna; bahwa hubungan keluarga mereka tetap hangat, dan baik-baik saja.

Baca: [Fokus] Merajut Yudhoyono Institute

Yang muda, yang tenang

Baik Gibran maupun AHY, sama-sama sosok yang tenang. Perbedaan gaya pakaian dalam gambar, bukan persoalan.

Toh, AHY yang dibilang necis, tak kalah hobi mengenakan hoodie dan jin yang kebetulan dipakai Gibran. Pun sebaliknya, putra sulung Jokowi juga tak anti batik, malah sesekali berdasi.

Bukan sekadar tenang. Dalam budaya Jawa, keduanya lebih tepat disebut sosok yang anteng. Pendiam, namun tetap berbobot.

Ya, di dalam tubuh AHY maupun Gibran, mengalir darah Jawa. Jokowi Solo, SBY Pacitan. Ketika keduanya bertemu, tak ada yang cocok dipakai sebagai takaran, terkecuali kacamata tradisi dan kebudayaan.

Setidaknya, ada empat ciri yang biasa dipraktikkan orang Jawa dalam kehidupan sehari-harinnya. Dalam Kuasa dan Moral (1988) filsuf Franz Magnis-Suseno menyebut, saling menyadari posisi lawan bicara menjadi karakter pertama.

Maka, tak perlu aneh, jika hari itu AHY tak berkeberatan sowan ke Istana.

Kekhasan kedua, masih kata Romo Magnis, orang Jawa cenderung berkomunikasi lewat seni. Tak suka blakblakan, to the point,  atau tanpa basa-basi.

Soal ini, undangan peluncuran The Yudhoyono Institute dan sajian gudeg bubur lemu, sangat mungkin berperan sekadar sebagai pembuka. Tentu, di balik sebabak diplomasi yang lebih mendalam.

Ketiga, menggunakan disimulasi. Artinya, ada kebiasaan orang Jawa yang memang pantang memberikan informasi secara terang, apalagi bersifat pribadi. Ciri ini, menjelma sebagai istilah yang lebih halus dari sikap kepura-puraan.

Yang terakhir, budaya Jawa menekankan kebisaan dalam mengontrol diri. Tak perlu marah saat kecewa. Tak mesti menolak jika tak suka.

Apalagi, AHY dan Gibran bukan anak-anak manja. Yang satu, berjiwa tentara, satunya lagi pengusaha katering yang jarang nimbrung di Istana.

Masa depan Indonesia, punya keduanya.

Regenerasi

Pernyataan AHY selepas pertemuan menjadi sorotan. Berbeda dengan kritik SBY yang diungkapkan beberapa pekan sebelumnya, AHY malah menyebut Jokowi sebagai pemimpin yang demokratis.

Baca: [Fokus] Kritik Demokrasi Jokowi

Presiden Jokowi, kata AHY, memberi kesempatan dialog kepada semua pihak. Bahkan, bersedia menyiapkan regenerasi pemimpin Indonesia di masa mendatang.

Tak ada sindiran abuse of power, dalam perkataan AHY. Dia pun menyampaikan salah satu poin obrolan bahwa Presiden Jokowi selalu berikhtiar menjaga komunikasi dengan berbagai elemen dan tokoh bangsa.

Namun, poltisi Partai Demokrat Roy Suryo meyakini bahwa segala yang ditampilkan AHY dan Gibran tidak mengada-ada. Atau, tidak sedang dalam rangka menyampaikan pesan tertentu.

"Semuanya, spontan. Tapi, ya, boleh dibaca siapa saja," kata Roy dalam Primetalk di Metro TV, Jumat, 11 Agustus 2017.

Sebab, menurut Roy, dalam politik segalanya bisa terjadi. Sementara,  pembacaan dan perkiraan belum bisa dijamin kebenarannya.

Berbeda dengan komentar pengamat politik Ray Rangkuti. Menurut dia, ada beberapa isyarat yang ditunjukkan dalam momen keakraban itu.

Pertama, bisa jadi, kedatangan AHY ke Istana merupakan bagian dari usaha SBY untuk mengimbangi kekuatan kubu Prabowo Subianto yang sudah ia jalin lebih dulu.


Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Cikeas, Jawa Barat, Kamis (27/7)/MI/ARYA MANGGALA

"Di belakang itu, kita tidak tahu apa yang sesungguhnya," Kata Ray dalam dialog yang sama.

Sebaliknya, dengan mempersilakan Gibran menemui AHY, Ray menduga, Presiden Jokowi sedang menjelaskan kepada masyarakat mengenai tingkatan-tingkatan dalam sebuah diplomasi.

"Level AHY, ya Gibran. Sama-sama anak Presiden. Atau, Jokowi juga sedang menyiapkan Gibran dalam rangka regenerasi," kata Ray.

Main tebak-tebakan, memang selalu bikin penasaran. Ihwal kepastiannya bagaimana, ya tinggal tunggu episode berikutnya.

Atau jangan-jangan, serupa kalimat yang khas dari gaya bicara Gibran, bahwa semuanya itu, "Biasa saja!




(SBH)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG SBY
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 21-08-2017